Berangsur-angsur, suasana bandara .. , Amsterdam, Belanda kembali seperti suasana bandara seperti biasanya. Para penumpang sudah mulai berbenah dan sibuk dengan jadwal penerbangannya masing-masing. Dari luar gedung, beberapa pesawat juga sudah bisa mendarat di beberapa landasan terminal bandara. Beberapa layar besar di bandara sudah aktif kembali menginformasikan jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat. Di layar lain, ada juga yang menayangkan breaking news yang masih membahas badai salju yang telah melanda kawasan Eropa beberapa jam yang lalu.
Masih sejam lagi. Ucap Dewo setelah menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Dewo membayang jauh ke belakang. Tepat sebulan lalu, dia juga berada di bandara ini. Yang membedakan adalah saat itu dia baru saja datang dari negaranya untuk melaksanakan salah satu tugasnya sebagai seorang mahasiswa. Mahasiswa sekaligus organisator, itu lebih tepatnya.
Sebulan yang lalu, hingga sekarang, mungkin hanya sedikit waktu yang dapat menjelaskan banyak petualangan hidup yang aku alami di negara ini. Negara yang menjajah bangsaku selama tigaratus limapuluh tahun. Dewo menerawang jauh ke belakang. Beberapa momen sudah terekam lekat di ingatannya.
Mungkin jika aku hanya berstatus sebagai mahasiswa biasa, yang hanya mendengarkan ceramah dosen di kelas, mengerjakan tugas kuliah, berangkat pagi ke kampus untuk kuliah, dan pulang ketika selesai kuliah, aku tak akan ada di tempat ini sekarang. Pikir Dewo.
Seisi bandara sudah makin sibuk dengan aktivitas penerbangan. Setiap orang sibuk memperhatikan jadwal pesawat. Para petugas bandara juga sudah berada di posnya masing-masing untuk melayani para penumpang pesawat. Dan Dewo masih duduk menanti keberangkatan pesawat yang akan membawanya kembali ke negaranya. Menjadi mahasiswa kembali, dan melaksanakan kewajibannya setelah belajar kilat di Belanda selama sebulan.
Sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat, Dewo membuka kembali catatan harian yang dibuatnya selama berada di Belanda. Buku catatan, atau kumpulan kertas-kertas yang tercecer lalu dijadikan satu folder dan terlihat seperti buku, ya, itu lebih tepat. Beberapa kertas dengan ukuran yang tak beraturan berhasil dikumpulkan oleh Dewo, lembar demi lembar ketika dia melangkahi detik demi detik waktunya di Belanda. Intinya, dia mencatatkan semua yang dipelajarinya di tempat ini. Seperti pesan yang diberikan oleh Frendy, kawan kampusnya ketika mengantarkan dia hingga ujung landasan pacu pesawat di bandara Soekarno Hatta, sebulan lalu.
“Lo emang cuma ditugaskan buat ikut simulasi konferensi. Tapi itu nggak lebih penting dari lo ngomong di kelas. Lo lebih baik keluar dari ruangan konferensi yang hasilnya sudah ketebak. Urusan normatif, dokumentasi fiktif, dan ujung-ujungnya jadi kertas sampah yang siap dibakar oleh pembuatnya sendiri.” Ucapan Frendy masih teringat jelas di benak Dewo, tepat ketika berada di bandara Soekarno Hatta sebulan lalu.
Lo benar Frend! Sehari saja di ruangan itu, rasanya seperti dikuliahi oleh orang asing. Sama saja dengan politikus di negara kita. Tak banyak ide-ide cemerlang yang bisa didapat. Mungkin jika aku tetap berada di ruangan itu selama sebulan penuh, aku tak bisa mengerti lebih jauh hal yang sebenarnya di negara ini yang akan menjadi oleh-oleh indah bagi kawan-kawan kita. Pikir Dewo mengingat dengan jelas hari pertama konferensi yang dihadirinya di Belanda. Dewo memang menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang dikirimkan oleh pemerintah untuk mengikuti agenda yang hanya berisi dua hal, diskusi dan senang-senang.
Lebih jauh menerawang, di ruangan konferensi yang dihadiri oleh tigapuluhan negara di seluruh dunia, pada hari kedua, Dewo memutuskan untuk memilih tidak mengikuti agenda utama. Dia lebih memilih berada di ruang konferensi yang bentuknya tak beda jauh dari aula yang mirip ruang rapat paripurna anggota DPR di Indonesia. Kalau cuma dijadiin anggota DPR, yang cuma duduk, diskusi, debat kusir, dan hasilnya hal normatif, gue juga bisa di Indonesia. Nggak perlu jauh-jauh ke negara orang.
Dewo masih ingat sekali, dengan balutan jaket tebal yang biasa dia gunakan untuk mendaki gunung ketika di Indonesia, dia berlari menyusuri gedung-gedung tua di Belanda. Lebih baik aku menatap kehidupan di sini, tempat orang-orang yang nenek moyangnya pernah menjadikan negaraku kuli, babu, dan pemuas nafsu.
Dengan balutan jaket tebalnya, Dewo masih menahan dingin yang menusuk tulangnya saat menyusuri jalanan di kota Amsterdam. Pusat pemerintahan sekaligus salah satu pusat peradaban di negara Belanda. Negara yang memberikan trauma tersendiri bagi orang Indonesia yang hidup di jaman penjajahan.
Trauma itu kini juga masih melekat di benak Dewo, apalagi ketika dia mengingat beberapa pelajaran sejarah yang dipelajarinya ketika SD hingga SMA, semuanya sama. Cerita tentang betapa sadisnya Belanda menjajah orang Indonesia kala itu. Betapa jahanamnya orang yang bernama Frank De Boer ketika dia menciptakan sistem yang dinamakan kerja rodi. Sebuah sejarah yang membuat Dewo berpikir bahwa suatu saat nanti, dia akan membalaskan semua dendam bangsa yang masih tersimpan.
Namun, sedikit demi sedikit trauma akan negara penjajah itu terobati seiring langkah Dewo yang mulai menjauh dari ruang konferensi. Langkah demi langkah, Dewo menatap salju yang menumpuk di tepian jalan. Hujan salju sudah reda memang. Namun tumpukannya masih terlihat jelas di beberapa pinggiran jalan kota. Senja sudah terlihat dari ufuk selatan. Kota Amsterdam hidup, membuat Dewo kala itu tak merasa berdosa memilih meninggalkan ruang konferensi dan menyusuri langkah demi langkah kota Amsterdam.
Beberapa kali berpapasan dengan raksasa berkulit putih, wajahnya sumringah, penuh harapan, dan memberikan senyuman kepada siapa saja yang lewat. Termasuk Dewo. Setiap kali dia berpapasan dengan orang yang tak dikenalnya, bukannya dia yang menyapa duluan, tapi para bule belanda itu. Bule yang tigaratus limapuluh tahun dengan beringas menghabisi sumber daya alam di Indonesia.
Harusnya aku malu jika mereka menyapaku terlebih dahulu. Aku yang selalu diajarkan santun kepada siapapun, sekarang sepertinya terbalik. Mereka, orang yang rasanya hidup dalam lingkungan modern yang individualis lebih sering menyapaku terlebih dahulu. Padahal harusnya aku asing bagi mereka. Pikir Dewo sambil tetap meneruskan langkah kakinya tanpa tujuan. Yang jelas dia hanya ingin melihat kehidupan di Belanda. Rasanya itu lebih bermanfaat dibanding dengan hasil konferensi nantinya. Mempelajari banyak kehidupan dengan bangsa yang berbeda lebih menarik bagi Dewo daripada berdebat kusir dengan hasil yang tak bermanfaat bagi dunia nyata.
Sebulan di negara orang, yang pernah menjajah bangsaku, rasanya seperti ingin menjajah balik bangsa ini. Tapi aku sendirian di sini. Dan yang kudapati justru keramahan dari setiap orang yang berpapasan denganku. Pikir Dewo.
Pelajaran langsung akan keramahan yang nyata, yang tak terpikirkan oleh Dewo sebelumnya. Dia berpikiran negara kerajaan yang disinggahinya ini adalah negara modern dengan sikap penduduknya yang lebih memilih individualis. Jangankan untuk menyapa bangsa lain yang jauh berbeda dengan mereka, untuk berinteraksi dengan sesama rasanya tak terbayang. Namun semua bayang-bayang itu kini menjadi jelas. Dewo setidaknya bisa membuat satu kesimpulan sederhana, Orang Amsterdam lebih ramah ketimbang orang Jakarta.
Lembar demi lembar kumpulan kertas yang masih semrawut walau telah ditata rapih oleh Dewo dalam satu file menggambarkan semua hal yang didapatnya di Belanda. Bukan dari hasil konferensi yang seharusnya didatangi olehnya, melainkan dari hasil jalan-jalannya menyusuri beberapa sudut di Belanda. Mulai dari kata “ramah” yang ditulisnya di halaman pertama, lalu dijelaskan panjang lebar olehnya. Hingga kata “Seksi” yang juga dijelaskan oleh Dewo di halaman tengah kumpulan kertas itu. Keseksian wanita di Belanda mungkin bisa menjadi contoh bagi wanita di Jakarta. Seksi bukan berarti harus memamerkan bagian tubuh yang tak harus dipamerkan. Wanita Belanda seksi dengan keanggunannya dan pembawaannya yang ramah, sopan, serta mudah membagikan senyum kepada siapa saja. Walau baju mereka tak vulgar, tapi mereka masih lebih seksi ketimbang wanita-wanita Jakarta yang berusaha seksi dengan memamerkan bagian tubuhnya yang mengenakan pakaian dengan bahan minim. Catat Dewo dalam kertasnya.
“(ENG) Bagi penumpang pesawat tujuan akhir Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia diharap segera bersiap untuk melakukan pengecekan dokumen dan persiapan lepas landas.” Lagi-lagi suara seorang petugas bandara wanita membuat Dewo harus mengemasi barangnya sekali lagi, dan kini dia juga harus memasukkan kembali kumpulan kertas penuh memori itu ke dalam tasnya. Ini akan menjadi oleh-oleh paling bermakna bagi orang yang mengaku organisator di negaraku. Setidaknya mereka bisa belajar satu hal, Ramah. Kata Dewo dalam hati saat memasukkan kembali kumpulan kertas itu.
Dengan wajah sumringah, terbayang wajah ibu, ayah, dan semua keluarganya yang dengan sumringah menyambutnya di Bandara Soekarno Hatta beberapa saat lagi. Perjalanan yang mempuh waktu lebih dari 24 jam, belum lagi harus mengalami transit di Dubai, Singapura, baru ke Indonesia, tentu membuat Dewo harus tetap menahan kesabarannya untuk kembali menatap keluarganya.
“Ibu sudah kangen nak!” Kalimat terakhir dari Ibu bagi Dewo pada sambungan telepon internasional masih terekam di benak Dewo. Dewo juga tak sabar untuk memberikan obat penawar rindu bagi ibunya, juga bagi dirinya sendiri yang rindu akan keluarga, habitat, sekaligus kampung halamannya.
Saking tak sabarnya, kini Dewo mempercepat langkahnya dari ruang tunggu menuju antrean pemeriksaan terakhir penumpang sebelum menuju pesawat yang akan membawanya kembali ke Indonesia. Terlihat dalam antrean tersebut, dominasi orang bule sedikit bisa diimbangi oleh orang-orang oriental Asia. Bahkan dalam hitungan kilat Dewo, orang Asia lebih mendominasi antrean. Mungkin karena musim dingin di Eropa membuat orang Asia lebih memilih untuk kembali ke negaranya terlebih dahulu. Lebih nyaman.
