Tuesday, March 20, 2012

Salam Ramah dari Mantan Penjajah

Berangsur-angsur, suasana bandara .. , Amsterdam, Belanda kembali seperti suasana bandara seperti biasanya. Para penumpang sudah mulai berbenah dan sibuk dengan jadwal penerbangannya masing-masing. Dari luar gedung, beberapa pesawat juga sudah bisa mendarat di beberapa landasan terminal bandara. Beberapa layar besar di bandara sudah aktif kembali menginformasikan jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat. Di layar lain, ada juga yang menayangkan breaking news yang masih membahas badai salju yang telah melanda kawasan Eropa beberapa jam yang lalu.
Masih sejam lagi. Ucap Dewo setelah menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Dewo membayang jauh ke belakang. Tepat sebulan lalu, dia juga berada di bandara ini. Yang membedakan adalah saat itu dia baru saja datang dari negaranya untuk melaksanakan salah satu tugasnya sebagai seorang mahasiswa. Mahasiswa sekaligus organisator, itu lebih tepatnya.
Sebulan yang lalu, hingga sekarang, mungkin hanya sedikit waktu yang dapat menjelaskan banyak petualangan hidup yang aku alami di negara ini. Negara yang menjajah bangsaku selama tigaratus limapuluh tahun. Dewo menerawang jauh ke belakang. Beberapa momen sudah terekam lekat di ingatannya.
Mungkin jika aku hanya berstatus sebagai mahasiswa biasa, yang hanya mendengarkan ceramah dosen di kelas, mengerjakan tugas kuliah, berangkat pagi ke kampus untuk kuliah, dan pulang ketika selesai kuliah, aku tak akan ada di tempat ini sekarang. Pikir Dewo.
Seisi bandara sudah makin sibuk dengan aktivitas penerbangan. Setiap orang sibuk memperhatikan jadwal pesawat. Para petugas bandara juga sudah berada di posnya masing-masing untuk melayani para penumpang pesawat. Dan Dewo masih duduk menanti keberangkatan pesawat yang akan membawanya kembali ke negaranya. Menjadi mahasiswa kembali, dan melaksanakan kewajibannya setelah belajar kilat di Belanda selama sebulan.
Sambil menunggu jadwal keberangkatan pesawat, Dewo membuka kembali catatan harian yang dibuatnya selama berada di Belanda. Buku catatan, atau kumpulan kertas-kertas yang tercecer lalu dijadikan satu folder dan terlihat seperti buku, ya, itu lebih tepat. Beberapa kertas dengan ukuran yang tak beraturan berhasil dikumpulkan oleh Dewo, lembar demi lembar ketika dia melangkahi detik demi detik waktunya di Belanda. Intinya, dia mencatatkan semua yang dipelajarinya di tempat ini. Seperti pesan yang diberikan oleh Frendy, kawan kampusnya ketika mengantarkan dia hingga ujung landasan pacu pesawat di bandara Soekarno Hatta, sebulan lalu.
“Lo emang cuma ditugaskan buat ikut simulasi konferensi. Tapi itu nggak lebih penting dari lo ngomong di kelas. Lo lebih baik keluar dari ruangan konferensi yang hasilnya sudah ketebak. Urusan normatif, dokumentasi fiktif, dan ujung-ujungnya jadi kertas sampah yang siap dibakar oleh pembuatnya sendiri.” Ucapan Frendy masih teringat jelas di benak Dewo, tepat ketika berada di bandara Soekarno Hatta sebulan lalu.
Lo benar Frend! Sehari saja di ruangan itu, rasanya seperti dikuliahi oleh orang asing. Sama saja dengan politikus di negara kita. Tak banyak ide-ide cemerlang yang bisa didapat. Mungkin jika aku tetap berada di ruangan itu selama sebulan penuh, aku tak bisa mengerti lebih jauh hal yang sebenarnya di negara ini yang akan menjadi oleh-oleh indah bagi kawan-kawan kita. Pikir Dewo mengingat dengan jelas hari pertama konferensi yang dihadirinya di Belanda. Dewo memang menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang dikirimkan oleh pemerintah untuk mengikuti agenda yang hanya berisi dua hal, diskusi dan senang-senang.
Lebih jauh menerawang, di ruangan konferensi yang dihadiri oleh tigapuluhan negara di seluruh dunia, pada hari kedua, Dewo memutuskan untuk memilih tidak mengikuti agenda utama. Dia lebih memilih berada di ruang konferensi yang bentuknya tak beda jauh dari aula yang mirip ruang rapat paripurna anggota DPR di Indonesia. Kalau cuma dijadiin anggota DPR, yang cuma duduk, diskusi, debat kusir, dan hasilnya hal normatif, gue juga bisa di Indonesia. Nggak perlu jauh-jauh ke negara orang.
Dewo masih ingat sekali, dengan balutan jaket tebal yang biasa dia gunakan untuk mendaki gunung ketika di Indonesia, dia berlari menyusuri gedung-gedung tua di Belanda. Lebih baik aku menatap kehidupan di sini, tempat orang-orang yang nenek moyangnya pernah menjadikan negaraku kuli, babu, dan pemuas nafsu.
Dengan balutan jaket tebalnya, Dewo masih menahan dingin yang menusuk tulangnya saat menyusuri jalanan di kota Amsterdam. Pusat pemerintahan sekaligus salah satu pusat peradaban di negara Belanda. Negara yang memberikan trauma tersendiri bagi orang Indonesia yang hidup di jaman penjajahan.
Trauma itu kini juga masih melekat di benak Dewo, apalagi ketika dia mengingat beberapa pelajaran sejarah yang dipelajarinya ketika SD hingga SMA, semuanya sama. Cerita tentang betapa sadisnya Belanda menjajah orang Indonesia kala itu. Betapa jahanamnya orang yang bernama Frank De Boer ketika dia menciptakan sistem yang dinamakan kerja rodi. Sebuah sejarah yang membuat Dewo berpikir bahwa suatu saat nanti, dia akan membalaskan semua dendam bangsa yang masih tersimpan.
Namun, sedikit demi sedikit trauma akan negara penjajah itu terobati seiring langkah Dewo yang mulai menjauh dari ruang konferensi. Langkah demi langkah, Dewo menatap salju yang menumpuk di tepian jalan. Hujan salju sudah reda memang. Namun tumpukannya masih terlihat jelas di beberapa pinggiran jalan kota. Senja sudah terlihat dari ufuk selatan. Kota Amsterdam hidup, membuat Dewo kala itu tak merasa berdosa memilih meninggalkan ruang konferensi dan menyusuri langkah demi langkah kota Amsterdam.
Beberapa kali berpapasan dengan raksasa berkulit putih, wajahnya sumringah, penuh harapan, dan memberikan senyuman kepada siapa saja yang lewat. Termasuk Dewo. Setiap kali dia berpapasan dengan orang yang tak dikenalnya, bukannya dia yang menyapa duluan, tapi para bule belanda itu. Bule yang tigaratus limapuluh tahun dengan beringas menghabisi sumber daya alam di Indonesia.
Harusnya aku malu jika mereka menyapaku terlebih dahulu. Aku yang selalu diajarkan santun kepada siapapun, sekarang sepertinya terbalik. Mereka, orang yang rasanya hidup dalam lingkungan modern yang individualis lebih sering menyapaku terlebih dahulu. Padahal harusnya aku asing bagi mereka. Pikir Dewo sambil tetap meneruskan langkah kakinya tanpa tujuan. Yang jelas dia hanya ingin melihat kehidupan di Belanda. Rasanya itu lebih bermanfaat dibanding dengan hasil konferensi nantinya. Mempelajari banyak kehidupan dengan bangsa yang berbeda lebih menarik bagi Dewo daripada berdebat kusir dengan hasil yang tak bermanfaat bagi dunia nyata.
Sebulan di negara orang, yang pernah menjajah bangsaku, rasanya seperti ingin menjajah balik bangsa ini. Tapi aku sendirian di sini. Dan yang kudapati justru keramahan dari setiap orang yang berpapasan denganku. Pikir Dewo.
Pelajaran langsung akan keramahan yang nyata, yang tak terpikirkan oleh Dewo sebelumnya. Dia berpikiran negara kerajaan yang disinggahinya ini adalah negara modern dengan sikap penduduknya yang lebih memilih individualis. Jangankan untuk menyapa bangsa lain yang jauh berbeda dengan mereka, untuk berinteraksi dengan sesama rasanya tak terbayang. Namun semua bayang-bayang itu kini menjadi jelas. Dewo setidaknya bisa membuat satu kesimpulan sederhana, Orang Amsterdam lebih ramah ketimbang orang Jakarta.
Lembar demi lembar kumpulan kertas yang masih semrawut walau telah ditata rapih oleh Dewo dalam satu file menggambarkan semua hal yang didapatnya di Belanda. Bukan dari hasil konferensi yang seharusnya didatangi olehnya, melainkan dari hasil jalan-jalannya menyusuri beberapa sudut di Belanda. Mulai dari kata “ramah” yang ditulisnya di halaman pertama, lalu dijelaskan panjang lebar olehnya. Hingga kata “Seksi” yang juga dijelaskan oleh Dewo di halaman tengah kumpulan kertas itu. Keseksian wanita di Belanda mungkin bisa menjadi contoh bagi wanita di Jakarta. Seksi bukan berarti harus memamerkan bagian tubuh yang tak harus dipamerkan. Wanita Belanda seksi dengan keanggunannya dan pembawaannya yang ramah, sopan, serta mudah membagikan senyum kepada siapa saja. Walau baju mereka tak vulgar, tapi mereka masih lebih seksi ketimbang wanita-wanita Jakarta yang berusaha seksi dengan memamerkan bagian tubuhnya yang mengenakan pakaian dengan bahan minim. Catat Dewo dalam kertasnya.
“(ENG) Bagi penumpang pesawat tujuan akhir Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia diharap segera bersiap untuk melakukan pengecekan dokumen dan persiapan lepas landas.” Lagi-lagi suara seorang petugas bandara wanita membuat Dewo harus mengemasi barangnya sekali lagi, dan kini dia juga harus memasukkan kembali kumpulan kertas penuh memori itu ke dalam tasnya. Ini akan menjadi oleh-oleh paling bermakna bagi orang yang mengaku organisator di negaraku. Setidaknya mereka bisa belajar satu hal, Ramah. Kata Dewo dalam hati saat memasukkan kembali kumpulan kertas itu.
Dengan wajah sumringah, terbayang wajah ibu, ayah, dan semua keluarganya yang dengan sumringah menyambutnya di Bandara Soekarno Hatta beberapa saat lagi. Perjalanan yang mempuh waktu lebih dari 24 jam, belum lagi harus mengalami transit di Dubai, Singapura, baru ke Indonesia, tentu membuat Dewo harus tetap menahan kesabarannya untuk kembali menatap keluarganya.
“Ibu sudah kangen nak!” Kalimat terakhir dari Ibu bagi Dewo pada sambungan telepon internasional masih terekam di benak Dewo. Dewo juga tak sabar untuk memberikan obat penawar rindu bagi ibunya, juga bagi dirinya sendiri yang rindu akan keluarga, habitat, sekaligus kampung halamannya.
Saking tak sabarnya, kini Dewo mempercepat langkahnya dari ruang tunggu menuju antrean pemeriksaan terakhir penumpang sebelum menuju pesawat yang akan membawanya kembali ke Indonesia. Terlihat dalam antrean tersebut, dominasi orang bule sedikit bisa diimbangi oleh orang-orang oriental Asia. Bahkan dalam hitungan kilat Dewo, orang Asia lebih mendominasi antrean. Mungkin karena musim dingin di Eropa membuat orang Asia lebih memilih untuk kembali ke negaranya terlebih dahulu. Lebih nyaman.

Monday, March 19, 2012

Jebakan Badai

Mimik muka yang datar, hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat. Merasakan pedih, luka, suka, duka, bahagia, rindu hanya dengan satu ekspresi wajah. Datar. Hanya itu yang bisa tergambar. Bukan karena tak mau, tapi karena memang hanya itu yang bisa diekspresikan.
Selayang salju membalut bandara .. Belanda, dua jam sebelum perjalanan panjang menuju bandara Soekarno - Hatta, Jakarta, Indonesia. Sedari tadi suara seorang wanita berbahasa inggris namun dengan dialek Belanda menginformasikan bahwa semua jadwal penerbangan ditunda untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Itu berarti bisa saja satu jam lagi Dewo harus tetap duduk di ruang tunggu bandara yang sudah semakin dingin. Bisa juga dua jam lagi, lima jam lagi, sehari lagi, atau bisa saja seminggu. Musim salju yang sedang mengamuk di kawasan Eropa, termasuk Belanda membuat arus transportasi udara di negara itu mengalami beberapa kali penundaan. Termasuk pagi itu. Dewo harusnya sudah duduk salah satu bangku pesawat yang membawanya kembali pulang ke negaranya.
"Semoga tidak lama." Ucap Dewo datar. Wajahnya tak bisa mengekspresikan kekecewaan yang ada di dalam hatinya.
"(ENG) Maaf mas, bagi penumpang pesawat yang tertunda, dapat mengambil selimut yang ada di dekat pintu ruang tunggu." Ucap seorang pria bule tinggi dengan bahasa inggrisnya yang kurang bisa dicerna oleh Dewo. Lagi-lagi karena aksen Belandanya. Walau sudah sebulan di Belanda, Dewo belum paham benar aksen Belanda.
"(ENG) Oke. Terima kasih." Ucap Dewo dengan wajah datar. Dia tak bermaksud untuk itu. Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya.
Dewo beranjak dari kursi yang sudah didudukinya sejak dua jam lalu. Sebuah bagpack seberat lebih dari lima kilogram yang menemaninya selama di Bandara kembali dipanggul olehnya. Berat memang pundaknya, namun Dewo tetap berjalan tanpa ekspresi menuju kerumunan orang yang sebagian besar berbadan jauh lebih besar darinya. Beberapa langkah di depan Dewo, sudah terhampar antrean manusia yang sama-sama segera mendapatkan selimut yang disediakan oleh petugas bandara. Ada lima antrean besar yang mengular di depannya. Dan Dewo lebih memilih antrean yang ada di sisi paling kanan tubuhnya. Hanya insting. Semoga saja ini antrean paling pendek. Pikir Dewo pendek.
Selangkah demi selangkah, Dewo mulai maju ke arah petugas berseragam biru muda yang sedari tadi membagikan selimut tebal dengan sepaket air minum hangat bagi semua calon penumpang pesawat yang ada di bandara. Dewo memperhatikan petugas bandara itu, dengan cekatan, tangannya mengambil selimut yang ada di sisi kanan dengan tangan kanannya, lalu mengambil sebotol air minum yang terlihat mengepulkan asap dengan tangan kirinya. Lalu botol itu diletakkan di tengah lipatan selimut dan diserahkannya kepada para penumpang yang mengantre. Di akhir eksekusinya kepada masing-masing penumpang, petugas Bandara tak lupa mengguratkan senyuman. Coba aku bisa seperti dia. Pikir Dewo.
Di sisi kanan, kiri, depan, dan belakang Dewo kini penuh dengan manusia raksasa. Setidaknya raksasa bagi dirinya yang memiliki tinggi hanya 172 centimeter. Bagi orang sebangsanya di Indonesia, tinggi badan yang lebih dari 170 centimeter masih tergolong orang yang tinggi. Tapi itu tidak berlaku di antrean dalam bandara. Dewo masih kalah tinggi dengan bule-bule eropa yang tingginya bisa mencapai dua meter. Diantara perbedaan Dewo dengan ratusan bule yang sedang mengantri, ada hal yang sama-sama dilakukan. Menghangatkan badan. Sebagian besar yang sedang mengantre melakukan hal yang sama. Kedua tangan terlipat di masing-masing pundak, lalu secara cepat menggesek-gesekkan telapak tangan dengan lengan. Hal itu dilakukan dengan cepat. Makin cepat gerakan, setidaknya bisa sedikit membuang hawa dingin yang semakin merasuk ke dalam tubuh mereka masing-masing.
Jaket-jaket tebal telah menempel di badan semua orang di bandara, termasuk Dewo. Tak jarang, beberapa orang menggunakan syal berbulu tebal untuk makin menghangatkan badannya. Setidaknya untuk tidak mengalah dengan hawa dingin yang sudah makin menusuk-nusuk di tulang. Bandara .. belanda, menjelang sore, suhu sudah mencapai minus lima derajat celcius. Suhu yang sangat berat bagi Dewo, dan segelintir orang Asia yang ada di bandara. Sesekali Dewo melihat orang berkarakter sama seperti dirinya, terselip diantara antrean-antrean manusia raksasa yang memiliki badan lebih besar. Badan dengan karakter fisik asia akan merasakan dingin berlipat-lipat, karena ini bukan habitat orang Asia. Ini Eropa.
“(ENG) Hallo orang Asia! Ini selimut dan air hangat untukmu. Semoga jadwal penerbangan hari ini bisa kembali berjalan normal.” Ucapan dari petugas bandara mengagetkan Dewo yang sedaritadi sibuk memperhatikan gerak-gerik para penumpang yang mengantre. Ucapan itu pula yang menyadarkan Dewo bahwa sebentar lagi dia bisa duduk kembali di ruang tunggu, dan dengan menikmati selimut yang tebal serta air hangat. Setidaknya untuk berharap bisa segera terbang meninggalkan Belanda.
“Thank you Sir!” kata Dewo menyambut tangan petugas bandara yang menghantarkan selimut tebal dan sebotol minuman hangat. Tetap dengan mimik datar yang dimilikinya.
“Okey! You’re welcome. (ENG) Jangan lupa berdoa pada Tuhanmu agar kita semua selamat.” Entah bercanda atau serius, petugas bandara mengatakan hal itu. Semburat senyuman di bibirnya yang tertutupi oleh kumis tebal tetap dapat dirasakan oleh Dewo.
“I hope so, Sir.” Ucap Dewo sambil menundukkan kepalanya. Semoga orang Belanda ini masih percaya bahwa orang Asia ramah. Gumam Dewo dalam hati, takut mimik wajahnya yang tidak sesuai dapat mencoreng nama bangsanya di negeri orang.
Suhu di Belanda masih belum berubah. Namun kini suhu tubuh Dewo sudah terselamatkan oleh selembar selimut tebal berbulu sintetis yang dapat menutupi sekujur tubuh kecilnya. Dia agak beruntung. Postur tubuh Asia yang dimilikinya membuat selimut ukuran orang Eropa bisa dilipat menjadi dua, sehingga dingin makin sulit menembus tubuhnya. Terlebih, dengan air panas yang kini digenggam oleh tangan kanannya, membuat dirinya makin terselamatkan dari hawa dingin. Setengah dari air yang di botol sudah ditenggaknya. Tak begitu berasa panas, padahal kebulan asap karena perbedaan drastis suhu ruangan dalam botol penampung air dengan ruangan di bandara. Namun, kehangatan air yang ditenggaknya tetap terasa oleh lambungnya yang secara spontan berelaksasi dan mengendur setelah sedari tadi berkontraksi, ikut menahan dingin di negeri Belanda.
***
Bertahanlah! Sebentar lagi kita akan terbang kembali ke Jakarta. Ucap Dewo pada dirinya sendiri. Matanya tak henti-henti menatap jam digital besar yang terpasang di ruang tunggu bandara. Di sisi kanan jam itu, terpampang jelas suhu udara yang saat ini sedang menyelimuti Belanda dan beberapa negara di Eropa, termasuk suhu ruangan yang kini mengurung ratusan orang. Ratusan orang yang sama-sama terjebak karena badai salju tak kunjung berhenti.
Sudah hampir tiga jam, Dewo dan ratusan calon penumpang pesawat lainnya menyelimuti dirinya. Botol minuman yang ada di tangan Dewo pun kini sudah tak berisi lagi. Beberapa menit yang lalu, mata Dewo baru saja menyaksikan seorang wanita terkapar lesu dan dipapah dengan tandu oleh beberapa petugas menuju klinik yang ada di bandara. Dewo juga sempat melihat wajah wanita bule yang dipapah tadi, wajah putihnya tetap bisa memancarkan pusat pasi. Mulut wanita itu sudah tertutup oleh alat pembantu pernafasan. Namun dari gerakan dadanya yang naik turun, sudah pasti wanita itu kesulitan untuk beradaptasi dengan suhu saat ini. Atau setidaknya kondisi tubuh wanita itu belum siap untuk berjuang dengan ratusan orang lainnya di suhu ekstrem karena badai salju ini.
Tak hanya Dewo, hampir semua pasang mata para penumpang yang sedang terduduk dan menutup semua badannya dengan selimutnya masing-masing tertuju ke arah wanita yang ditandu tadi. Wajah mereka terlihat makin khawatir. Jika badai tak segera berlalu, akan makin besar kemungkinan petugas bandara harus menyiapkan tandu lagi untuk membawa sesosok tubuh yang gugur karena suhu ekstrem menuju klinik bandara untuk diberikan perawatan darurat.
“HELP! PLEASE HELP!” Dari sudut ruang tunggu bandara, seorang pria berumur berteriak dan melambaikan tangannya. Semua pasang mata yang baru saja menghantarkan seorang wanita ditandu hingga pintu ruang tunggu bandara kini beralih ke sumber suara seorang pria gempal dengan brewok tebal di wajahnya. Mulutnya tak henti-henti berteriak minta tolong, dan sesekali tangan kirinya melambai. Tangan kanannya memeluk erat sesosok perempuan paruh baya yang matanya terpejam dan kepalanya sudah tersandar di bahu pria tadi.
Dua orang petugas bandara yang sedari tadi berjaga di ruang tunggu berlari menuju sudut bandara, tempat pria tua itu melambaikan tangan. Wajahnya amat khawatir, mungkin wanita di sampingnya adalah pendamping hidup yang sangat dicintainya. Ucap Dewo sambil terus memperhatikan kekisruhan yang kembali muncul di ruang tunggu bandara. Kekisruhan yang sama beberapa menit lalu, ketika akhirnya seorang perempuan ditandu keluar ruang tunggu menuju klinik bandara.
“Emergency! Medis please...! Emergency! Medis please!” Salah satu petugas bandara yang menghampiri pria tua tadi meneriakkan panggilan medis melalui handy talkie yang dibawanya.
Tak selang beberapa menit berlalu, lima orang petugas berpakaian putih-putih, dengan jaket tebal berlari menuju ruang tunggu bandara. Hal yang sama, persis. Dan hal yang sama pula dilakukan untuk menyelamatkan wanita yang sudah pingsan di pelukan seorang pria tua tadi. Bantuan nafas hingga pemasangan alat pengatur nafas darurat sudah dilakukan agar wanita yang pingsan karena tak kuat bertahan di suhu dingin dapat bertahan di dalam hidupnya.
Beberapa menit kemudian, setelah satu-satunya petugas medis perempuan membisikan sesuatu ke pria tua yang sedaritadi mendampingi wanita yang sudah terkapar, akhirnya wanita itu ditandu ke luar ruang tunggu menuju klinik bandara. Kembali terjadi. Namun kini ada seorang pria tua yang bukan petugas medis yang ikut menandu wanita yang sudah terkapar tadi. Wajah yang sangat panik terlihat dari pria tua dengan wajah yang sudah berkerut itu. Jalannya yang sudah lemas tetap ditahannya untuk bisa mendampingi wanita yang pingsan di pelukannya tadi.
Wajah yang tak kalah khawatir kini terlihat di sebagian besar manusia yang ada di ruang tunggu bandara. Tak hanya para penumpang, kini petugas bandara pun mulai mengurangi patrolinya. Mungkin mereka harus menyimpan tenaga untuk dapat bertahan dari hawa dingin yang masih menyelimuti seisi ruangan bandara.
Dewo hanya bisa terdiam. Dalam diamnya, dia memejamkan mata sesaat. Semoga setelah mata ini terpejam, dan sesaat membuka, badai akan terhenti. Pikir Dewo.
***
“(ENG) Bagi penumpang pesawat dimohon bersiap. Badai sudah berhenti. Jadwal penerbangan akan diatur ulang. Mohon perhatikan jadwal yang ada di layar bandara.” Suara seorang perempuan dengan nada sumringah memberitakan kabar baik bagi semua manusia seisi bandara.
Seisi bandara yang penuh dengan aura kekhawatiran selama lebih dari lima jam, kini berubah menjadi aura penuh harapan. Setidaknya harapan untuk segera meninggalkan ruang tunggu bandara, terbang dari wilayah Eropa dan menghangatkan diri ke daerah tropis seperti Asia, Afrika, maupun Amerika tengah. Termasuk Dewo yang sudah tak sabar lagi untuk mengemasi barang-barangnya kembali setelah berhibernasi dengan selembar selimut sedari tadi.
Suhu bandara berangsur-angsur mulai menghangat. Mesin penghangat yang sedaritadi menyala dan tak terasa, kini mulai dirasakan oleh semua manusia yang ada di dalam bandara. Beberapa orang juga sudah mulai mengemasi barang-barang bawaannya yang membantunya bertahan dari dingin tadi. Beberapa selimut sudah tak digunakan dan kembali dilipat oleh penggunanya masing-masing. Suhu udara yang masih berada di kondisi dingin membuat seisi bandara masih mempertahankan jaket tebalnya melekat di tubuh masing-masing. Begitu juga Dewo.
Layar bandara yang memberikan update terbaru jadwal keberangkatan pesawat sudah menyala kembali dengan beberapa jadwal yang diundur. Dewo melihat urutan jadwal keberangkatan satu demi satu, dan hingga akhirnya dia menemukan jadwal yang mirip dengan tiket pesawat di genggaman tangannya.
Kini perhatian Dewo beralih ke jam yang terlingkar di tangan kirinya. Jadwal keberangkatan ditunda hingga pukul 10 malam. Sekarang masih pukul 7 malam. Masih tiga jam lagi. Semoga masih ada kata sabar. Gumam Dewo melihat waktu yang masih cukup lama harus dilaluinya di dalam bandara. Walau hawa dingin sudah tidak begitu menusuk hingga tulang yang ada di dalam tubuhnya, namun kini dia harus bersabar untuk bisa terbang menuju tanah kelahirannya. 

Mimik Muka.

Bergabunglah dengan komunitasmu, dan kamu akan menemukan hidupmu di sana...
Seenggaknya, ini kalimat yang menurut gue aplikatif ketika gue jadi penjaga stand yang jualan celana kolor. Based on true story, kebetulan kemaren GILAIndonesia.com diajak buat buka stand si salah satu seminar sehari yang (katanya) mempertemukan para jutawan muslim. :) Kebetulan juga, kita diajak karena si Prama Wiratama, yang juga foundernya GILAIndonesia.com nembus 15 besar lomba poster yang diadain sama panitia. Bingung juga sih sebenernya gw. Kok bisa menang ya? hihihi....
Oke. Diskip aja pertanyaan gue sebelumnya. Ada hal yang unik ketika kami berdua buka stand di acara yang sebagian besar pengunjungnya adalah gue yakini pasti rajin solat 5 waktu sehari. Seenggaknya, iman mereka lebih kuat dibanding iman gue. hehehe.....
Keunikan muncul ketika gue dan Tomi jaga stand. Ada beberapa respon yang kami dapat ketika pengunjung acara lewat di stand kami. Beberapa bisa diklasifikasikan sebagai berikut (Buset! Resmi amat dah tulisan gue!!! "EFEK SKRIPSI" :
Pertama, kalo pengunjungnya itu ibu-ibu paruh baya. Widih...doi sih pasti ngelirik. Tapi, komennya itu lho! Oh iya, kebetulan pas buka stand, yang kita tonjolin adalah buku "TETAP LAPAR, TETAP GILA!". Dan ketika ibu berusia paruh baya itu ngelirik stand, mimik mukanya itu berubah, tadinya biasa aja, jadi kurang biasa aja. Untung emak-emak. Bukan eneng-eneng. Kalo eneng-eneng, ya nggak diapa-apain juga sih.
Ngeliat mimik muka si ibu yang berubah, sebenernya pengen negor, pengen nawarin ke dia barang di stand. Tapi kayaknya nggak deh. Si Ibu udah ilfil duluan sama barang dagangan.
Usut punya usut, ternyata mimik muka beliau berubah karena baca judul buku kita, TLTG. Ini sih kata Tomi, setelah ibu-ibu itu, ada bapak-bapak agak muda, nggak ganteng-ganteng amat (Sama gue masih gantengan gue) yang melipir ke stand. Dia bilang penasaran, ada buku bacaan yang berat. Info itu didapat dari ibu-ibu paruh baya. Buku bacaan berat? Oh men! Seberapa berat? 50 kilo? :))))
Kedua, kalo pengunjungnya ibu-ibu bawa anak kecil. Yang ada, si anak yang digandengnya yang kebetulan ngelirik barang "saru" di stand kami langsung diamankan oleh si Ibu. Pasti si ibu itu ngebisikin ke anaknya,"Nak, kamu kalo gede jangan kayak kakak yang jaga stand ya! Pikirannya jorok. Astaghfirullah... :))".
Lain halnya kalo bukan ibu-ibu. Kalo mas-mas, ada juga yang dateng ke stand. Responnya biasa aja. Yah, emang sebenernya barang kita barang biasa. Cuma kolor, buku, sama kaos kok. Nggak neko-neko. Kecuali kalo kita jualan video bokep, ganja, atau miras, baru deh neko-neko. :p
Hampir sebagian besar yang lewat stand kami gue amati berubah air mukanya. Ada juga sih yang biasa aja. Tapi dalam hati, mereka pasti bilang, "Apaan sih ni barang kok bisa nyasar ke tempat ginian!" atau minimal, satu kalimat yang diucapkan,"Astaghfirullah...". Haha....agak lebay sih kayaknya.
Sebenernya, banyak juga sih yang tertarik. Cuma yang tertarik itu juga perlu dijelaskan juga, apa maksud dari barang yang kami jual. :D
Intinya, yaa....daripada demo, bakar ban, mabok, ngerampok, ya mending jualan barang ginian.
"Iya juga mas. Mending jualan ini, ada idealismenya. Daripada cuma bisa ngomong nggak jelas." Ini ucapan nenek-nenek tuaaaaaaa buanget. Kebetulan dia melipir hampir limabelas menit di stand. Dia sempet baca juga beberapa tulisan di buku TLTG. :))
Yah....sebenernya ada satu lagi respon sama pengunjung eh apa panitia yang di acara itu ya? haha....
Respon gue sama Tomi idem! Idem kalo misalnya mbak-mbak yang bantuin kita dan mau direpotin sama kita itu kalem. Ngademin. Padahal gue sempet ada niatan iseng sama dia, eh karena dia menanggapinya dengan kalem, ya yang ada gue nggak berani neko-neko. hihihihi....
Apalagi pas ada yang nawarin makan siang. Walau katanya di Juklak acara, maksimal 1 tim boleh bawa 3 orang, ternyata eh ternyata yang dikasih pas acara cuma 1 tiket makan. Yaudah...mau ngambek, si embaknya ngademin, kalem bener. Ya...mau nggak mau, salah satu diantara kita harus ngalah. Ehehehe.... Enak nih kalo liat panitia acara (walau ngeselin), tapi doi kalem. Bikin adem.
Hahahaha....
Intinya?
Intinya sih sebenernya gue cuma pengen ngomong, kalo liat panitia, kalem, dan bisa melayani konsumernya, otomatis konsumernya bakalan membalasnya dengan hal yang kalem pula. Weh? Nggak nyambung ya?
Yah....semoga mbak-mbak yang kalem itu baca. Dan kalo baca, jangan cengar-cengir ya mbak....
Giginya kuning. Belom digosok. #eh

Catatan Rayap, (Yang Tak Jelas)

Bismillahirrohmanirrohim....






Cerita dari sebuah negara antah berantah,
Suatu saat, ketika seorang mahasiswa masuk ke dalam sebuah sistem di sebuah perguruan tinggi yang dia harapkan, mahasiswa itu tentu berharap akan menemukan sistem terbaik yang akan membuatnya menjadi lebih baik (pula). Bukan justru hanya mendapati bahwa di dalam sistem itu seperti kayu yang sudah digerogoti rayap, sudah rapuh, dan tinggal menunggu kata remuk menghampirinya.
Bukan sistem yang sempurna yang diharapkan oleh setiap mahasiswa, karena memang tidak ada sistem yang sempurna di dunia ini, termasuk sistem yang diterapkan di semua perguruan tinggi. Terlebih, sistem yang sempurna adalah milik Allah......dan milik Andra and the backbone. Nah kan, mau nulis serius kok jadi ngaco gini. :D Ya, intinya suatu kesempurnaan dalam sebuah sistem akan sangat sulit muncul.
Namun, setidaksempurnanya sistem yang dibangun, termasuk dalam sebuah perguruan tinggi, tentu penghuninya menginginkan suatu sistem yang sempurna, tidak bercelah, dan tidak akan rapuh walau akan ada rayap yang menggerogotinya. Bukan sistem yang hanya sekedar untuk dibuat, dilaksanakan, dan digerogoti lagi oleh rayap, lalu ditinggal pergi, dan begitu seterusnya.
Mahasiswa bukan makhluk yang sempurna, terlebih jika ketidaksempurnaan yang dimiliki justru dipermainkan untuk kepentingan suatu jabatan tertentu. Atau justru untuk mengamankan suatu rezim. Atau, untuk mengamankan suatu posisi. Memang, untuk dapat bertahan hidup, manusia butuh makan. Namun, makanan yang dibutuhkan juga makanan yang halal. Lah? Kok jadi ngomongin makanan halal? :((
Mahasiswa butuh ruang belajar yang nyaman, bukan medan perang,
Mahasiswa itu orang bodoh yang masih ingin belajar. Belajar banyak hal. Tidak hanya belajar menyerap teori yang hanya ditranslate dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Lebih dari itu. Mahasiswa juga butuh tempat untuk bertransformasi dari anak SMA yang hanya selalu disuapi oleh berbagai teori menjadi seseorang yang benar-benar siap di dalam kehidupan nyata.
Kehidupan nyata membuat mahasiswa menjadi dewasa. Namun juga bukan mendewasakan mahasiswa dengan mimpi-mimpi basah yang maksudnya jelas untuk melanggengkan suatu rezim yang tak jelas. Nyata-nyatanya, mahasiswa membutuhkan ruang di kampusnya untuk berekspresi. Bukan didikte lagi seperti ketika berada di OSIS oleh kesiswaan SMA. Ini mahasiswa, bukan siswa.
Transformasi dari anak ingusan ke anak yang bisa mengerti makna hidup butuh banyak hal. Tidak sekedar pendiktean, dan jika tidak setuju, maka akan menggerogoti kokohnya bangunan yang dengan sulit didirikan selama bertahun-tahun. Membuat "negara" dalam "Suatu negara" bukanlah  hal yang benar. Tidak ada yang membenarkan, termasuk di dalam ilmu politik.

Thursday, March 8, 2012

Menikmati Liburan Semalam di Hotel Papaho, Bogor


Menikmati liburan di Papaho Hotel,
Beberapa hari yang lalu, saya main ke Papaho Hotel di Bogor, Jawa Barat. Iseng-iseng, dari browsing di Internet, penasaran aja, dari hasil browsing, banyak juga yang ngasih testimoni tentang hotel Papaho. Dari list harga yang ada di internet, harga menginap semalam di hotel ini lumayan terjangkau, mulai dari 300 ribuan.
Yah….karena saking penasarannya, dan kebetulan lagi mau travelling ke Bogor, iseng-iseng booking satu kamar yang paling murah di hotel itu via telepon. Pas telepon diangkat, costumer servicesnya ternyata cewek. Suaranya alus pisan euuuy! Ramah pula. Walau saya agak ribet nanya sana sini ke si mbak, dia jawab dengan nada ramah. Suaranya nggak ngebosenin juga. Makannya saya lama-lamain telepon. Hehehe….sekalian dong!
Saya telepon hari jumat, dan booking tempat di hotel papaho untuk hari sabtu sore sampai minggu. Untunglah masih ada tempat kosong, karena biasanya kan hotel-hotel bakal rame kalo weekend. Apalagi hotel di daerah pegunungan kayak Bogor. Bisa jadi orang-orang jakarta pada mengungsi ke Bogor, dan menginap di hotel ini.
Singkat cerita, saya sudah tiba di halaman depan hotel Papaho. Secara arsitektur, walau saya bukan ahli di bidang seni rancang bangunan, saya merasa bahwa hotel ini dibangun dengan desain yang futuristik, karena memang dari lobby utamanya saja hotel ini sudah terkesan seperti berada di ruangan era milenium. Mulai dari tata ruang, dekorasi, hingga pencahayaan mencerminkan gaya kasual yang modern.
Setelah berada di lobby depan, saya dihadapkan dengan costumer services, cewek cantik pula. Hehe…baru dateng langsung disambut senyuman sama si embak. Dia didampingi dengan seorang pria tegap yang sepertinya siap melayani. Saya langsung saja memberitahukan bahwa saya sudah booking kemarin. Dan setelah itu, tanpa ada proses yang panjang, saya langsung diantar oleh seorang bellboy ke dalam ruangan yang telah saya pesan.
Nyaman euy!
Baru rebahan bentar di dalam hotel, fasilitas ruangan yang saya dapatkan cukup memuaskan. Yah….justru melebihi ekspektasi saya, karena harga yang ditawarkan cukup terjangkau, hanya 300 ribu per malam.
Semalaman di hotel Papaho, saya cukup mendapatkan pengalaman dilayani di dalam hotel yang berkualitas. Walaupun bukan hotel bintang lima, tapi pelayanannya cukup memberikan kepuasan dan kenyamanan bagi para penghuninya.
Buat yang mau jalan-jalan ke Bogor, boleh nih kalo sekali-kali cobain hotel Papaho Bogor.
Ini bukan lagi jadi tim marketingnya hotel papaho lho ya! Cuma share pengalaman jalan-jalan aja. Yah, daripada kebingungan, cari hotel yang nggak pasti, mending melipir ke hotel yang pasti-pasti aja. Nyaman, ramah, dan nggak neko-neko.

Friday, February 10, 2012

Based On True Story :1 Mahasiswa Feat 2 Profesor

Bismillah....
Jakarta, 9 Februari 2012
Gue masih berdiri di bagian belakang salah satu Aula di Hotel Sahid. Satu kata yang ada di benak gue waktu itu adalah, "Again". Undangan yang berlabel penghibur. Dan (mungkin) karena sudah terbiasa, ya gue nggak ngerasa aneh kalo tiba-tiba ada undangan, terus mahasiswa di kampus diajak untuk berpartisipasi, tapi pas di tempat acara malah jadi pajangan. Mending kalo cuma jadi pajangan, kadang kurang dianggap. Tidak semuanya lho ya. Tapi ada beberapa yang pernah merasakan. Welcome to this campus!
Hampir aja gue ngetweet tentang kondisi di aula itu, eh tiba-tiba ada nomor yang belum sempet kesimpen di ponsel gue.
"Halo...! Siapa nih?" Gue biasanya langsung to the point kalo sama nomor tak dikenal. Kalo ada namanya, gw analisis dulu dia muslim atau nggak. Kalo iya, ya diusahakan pake assalamualaikum. Biar keliatan alim. Hehe...
"Yam...ini Fajar. Lo keluar bentar dong. Bareng Lucky ya! " Si Fajar, ketua BEM yang juga ikut pas acara di Sahid waktu itu nyuruh gue keluar.
Karena memang gw merasa nyampah di dalem aula, akhirnya gue putuskan keluar. Si Lucky yang emang ada di tempat yang nggak jauh dari gw, langsung gue tarik menuju ke luar aula. Di luar aula ternyata Fajar nggak sendirian. Ada dua orang, cewek berjilbab yang bawa microphone bertuliskan "BeritaSatu" dan seorang pria paruh baya yang bawa kamera. Dan pas pertama gw ngeliat dua orang itu, sepertinya familiar. Maklum, kadang gue nongkrong di tempat wartawan nongkrong. Khususnya pas lagi di "kandang rakyat". :)
Oke, intinya si Fajar nyuruh gue keluar karena ada dua wartawan yang pengen tau pendapat mahasiswa soal "Jurnal Ilmiah". Ya. Intinya itu. Dan karena intinya itu, gue jawab aja, "Jurnal ilmiah itu bagus. Tapi belum tentu kebijakan jurnal ilmiah bagi SEMUA mahasiswa yang ingin jadi sarjana bagus."
Pas ngomong di depan kamera agak gagap euy! Maklum, skill tampil di depan kamera udah lama nggak gue latih. hihihi....
Beberapa saat kemudian, si embak yang wartawati itu nanya, "Dyama semester berapa?"
"Masuk semester delapan mbak. Ini lagi mau skripsi. hehe..." Jawab gue.
"Oh...pas banget dong. Sukses ya..." Kata Mbak Dina, wartawati itu. Cakep lho! Tahi lalat di atas bibirnya itu lho. Bikin pengen nyolek. Astaghfirullah.
Oke. Sepertinya terlalu bertele-tele. Point pentingnya belum dapet.
Limabelas menit berlalu, tiba-tiba mbak Dina dateng lagi ke gue. "Dyama, kamu mahasiswa tingkat akhir kan? Pas banget lagi bikin skripsi ya? Mau nggak hari ini ngomong ke studio." Tanya Mbak Dina menggebu-gebu.
"Waduh? Boleh mbak." Udah lama gue nggak pernah diundang stasiun TV. Terakhir sama Global. Itu pun cuma buat nerima award dari MenPan. hehehe...
"Yaudah. Nanti di studio ada acara talkshow tentang Jurnal Ilmiah. Di situ ada narasumber dari Dikti, terus juga ada dari pihak perguruan tinggi. " Jelas Mbak Dina.
"Wah! Boleh banget mbak. Terus gimana nih jadinya?" Kebetulan. Gue bisa langsung ngomong ke aktor utama pencetus kebijakan aneh itu.
"Yaudah, nanti acaranya jam 6. Kalo bisa kamu standby di studio jam 5an. Boleh bagi nomor HPnya nggak?" Jelas Mbak Dina.
Singkat cerita, gue dan mbak Dina tukeran HP. Dan setelah itu, gue dihubungi sama orang BeritaSatu buat ketentuan selanjutnya. Nggak penting buat diceritain. Intinya gue suruh ngomong pendapat tentang Jurnal Ilmiah dari sudut pandang MAHASISWA.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, gue udah nangkring di ruang narasumber BeritaSatu. Gue nunggu mbak Amandea, soalnya dia yang hubungi gue via telepon. Usut punya usut, dia yang jadi LO gue dan dua narasumber lainnya. Oke, waktu itu gue yang dateng pertama. Mungkin terlalu cepet sih. Yah, daripada gue kejebak macet. hehe
Jam 17.30, Mbak Amandea nongol. Pas banget sama dua orang, satu wanita paruh baya, dan satunya lagi pria yang agak mudaan dikit. Umurnya sekitar 40an mungkin. Sama mbak Amandea, gue dikenalin ke dua orang itu. Ternyata si wanita adalah Prof. Lenny, beliau adalah Rektor Universitas Atmajaya, dan satunya lagi gue lupa namanya, tapi beliau adalah Pembantu Rektor Bidang Akademik.
"Oh men! Gue pikir yang jadi narasumber paling cuma dosen. Eh ternyata profesor!" Pikir gue pas lagi salaman sama Prof Lenny.
Sambil nunggu acara, di ruang narasumber, gue sempet ngobrol-ngobrol sama Prof Lenny dan asistennya itu. Salah satunya tentang jurnal,
"Yaa...kalau dari pihak kami sih setuju saja. Ini program yang baik." Ucap Prof Lenny sambil senyum.
"Tapi, kan perlu ada infrastrukturnya dulu yang jelas. Masa iya tiba-tiba muncul kebijakan gitu." Lanjut Prof Lenny.
Gue sih cuma ngangguk-ngangguk aja. Kadang juga ngomporin. Kita sama-sama kurang setuju dengan kebijakan Jurnal Ilmiah bagi semua calon sarjana. Intinya itu. Alasannya banyak.
Beberapa saat berselang, muncul Mbak Olla, dia adalah presenter yang bakal mandu acara TalkShownya. Widih. Pokoknya semok lah. Nggak penting pas mbak Olla muncul di ruang narasumber selain kesemokannya. Intinya dia ngenalin diri dan minta inti pendapat dari narasumber.
Pukul 17.55, orang Dikti belum juga datang. "Halah....ini nih. Pejabat negara susah kalo diajak ontime. hehe.." Pikir gue.
Ealah, abis gue ngomong gitu, sepertinya orang Dikti itu panjang umur. Langsung datang boo!
Salaman, yaa...biasa lah. Basa-basi dikit. Mbak Amandea ngenalin satu-satu. Namanya Prof. Supriadi Rustad. Hm....
Beberapa menit kemudian, mbak Amandea nyuruh gue ganti baju. Maklum, gue narasumber cabutan. Jadi nggak sempet pake baju bagus. Setelah gue ganti baju pake jas, udah tambah ganteng lah pokoknya, semua narasumber diajak masuk ke studio.
Gue, Prof. Lenny, Prof. Supriadi, dan dipandu sama mbak Olla. Yummy! It's Show time!
"Selamat malam pemirsa, kembali lagi bersama saya...bla bla bla...." Mbak Olla buka acara. Setelah itu ada video yang diputer seputar Jurnal Ilmiah. Ya...biasa lah. Penyajian media.
Prof Supriadi dikasih kesempatan bicara pertama,"Yaa...intinya kan dengan adanya jurnal Ilmiah, kami ingin meningkatkan kualitas menulis secara ilmiah para mahasiswa. Kita ingin menunjukkan kalau mahasiswa di Indonesia tidak kalah dibanding dengan negara lain." Kata Prof. Supriadi. Intinya gitu yang gue tangkep.
Gue nangkep, kalo kebijakan Jurnal Ilmiah tujuannya adalah untuk meningkatkan jiwa ilmiah para mahasiswa dengan cara menulis. Intinya menulis dan ilmiah.
Terus kesempatan kedua dikasih ke Prof.Lenny,"Kami semua siap dengan kebijakan Jurnal Ilmiah. Tidak ada masalah sama sekali. Tapi yang jadi masalah sekarang adalah kebijakan itu belum ada kejelasan sama sekali. Dikti hanya menjelaskan melalui surat edaran. Sementara tindak lanjutnya bagaimana pun belum ada." Jelas Prof Lenny.
Gue nangkepnya di sini, Prof Lenny berpendapat, Jurnal Ilmiah itu bagus, tapi perlu adanya infrastruktur dan pedoman yang jelas dari Dikti.
"Jangan tiba-tiba mengeluarkan kebijakan, tapi tanpa pedoman yang jelas." Intinya Prof. Lenny bilang gitu.
"Oke. Terus pendapat Iyam bagaimana selaku mahasiswa?" Tanya Mbak Olla memoderatori dialog.
"Kalau saya ditanya selaku mahasiswa, saya sangat setuju jika mahasiswa harus membuat jurnal ilmiah. Tapi, ada hal yang perlu diingat. Setau saya, tujuan adanya perguruan tinggi ada tiga, pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dalam hal ini, sudah jurnal ilmiah menjadi konsekuensi bagi mahasiswa, karena telah menjadi bagian lingkungan akademis yang bersifat ilmiah. " Gue ngasih pengantar gitu.
Ada untungnya juga sering ngeles pas lagi miting jasmerahmaroon atau pas lagi ngopi di angkringan. Gue bisa ngomong sambil liat muka yang liat ngomong. Dari kedua profesor yang gue liat, kedua mukanya mengerutkan dahi. Nah, karena gue bukan ahli psikologi wajah, gue nggak ngerti makna makin mengerutkan dahi ketika dua orang itu menyimak pembicaraan orang.
Dialog berlangsung makin hangat. Ketiganya, termasuk gue, sama-sama kuat dengan argumennya. Prof. Supriadi berpendapat kebijakan jurnal ilmiah perlu bagi mahasiswa yang mau sarjana. Gue dan Prof. Lenny kurang setuju. Tapi kami bertiga punya pendapat sama, Jurnal Ilmiah adalah hal yang penting bagi mahasiswa. Gue sendiri berpendapat, Jurnal ilmiah sudah bagian dari konsekuensi yang harus ditanggung mahasiswa ketika berkuliah, karena dia hidup di lingkungan akademis.
Tapi, apa iya kalau mau lulus harus bikin jurnal ilmiah? Nggak ada cara lain? Itu yang gue pertanyakan. Setau gue, ada yang namanya PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), salah satunya tentang Artikel Ilmiah, Gagasan Tertulis, dan Penelitian. PKM itu diadakan oleh DIKTI. Kenapa Dikti nggak memaksimalkan jurnal ilmiah lewat situ aja?
Pas gue mempertanyakan hal itu, sayangnya Prof. Supriadi menanggapi sambil lalu. Yah...sayang sekali ya Prof.
Inti cerita yang ingin gue sampaikan di sini...hm...apa yaa? Gue bangga bisa ngomong duet bareng dua professor. Halah....
Gitu yaa?
Hm...kayaknya bukan deh. Jadi apa dong?
Yah....simpulkan sendiri aja deh.

follow twitter gue kalo mau diskusi di @dyamakhazim


Monday, February 6, 2012

Skrip Pidato

Bingung gw ini blog dari kemaren nggak diisi. Walhasil, gw nemu notes yang jadi skrip pidato pertama yang gw bikin buat seorang pemimpin. hehehe....mau tau isi skripnya? Cekidot! Ntar kalo sempet, gambar skrip aslinya gw foto terus upload deh. Oiya, takut terjadi hal-hal yang berkaitan dengan hak publikasi nama, ada beberapa catatan yang gw sensor. hihihi...

Ibarat pembangunan istana, saat ini ****tiiiiitttt**** masih dalam proses pembangunan pondasi yang kuat. Mental organisasi dan idealisme sebagai pengabdi bagi mahasiswa ****toooottt**** masih perlu diperkuat.

Memang, dalam pembangunan istana itu, akan ditemui ular-ular liar yang bisa mengganggu proses. Akan ada hujan badai yang bisa menghentikan pembangunan untuk sementara. Dan akan ada ketidaktepatan bentuk batu yang saling menopang dalam pondasi.

Namun, untuk membuat sebuah istanah yang kuat dan megah, diperlukan mental yang kuat dan megah pula untuk menjalani segala bentuk hambatan dan gangguan.

Bukan masalah eksistensi maupun pengakuan. Namun kebanggaan sebagai ***tiiiiiitttt*** untuk bisa melayani semua ***teeeeettttt*** dan keluarga ***tooottt*** secaa keseluruhan.

Begitulah kurang lebih notes yang diakhiri dengan tepuk tangan dan kemunculan kilauan bintang pada saat itu. :)

Monday, January 23, 2012

Politik, Inspirasi, Pemuda Target Potensial

Ps : Kalo nggak mau baca dari awal sampe akhir, mending jangan baca. Daripada ntar dapat menimbulkan kesalahpahaman. :) Satu lagi, ini bukan konteks global. Tapi nasional. 



"Politik adalah salah satu media untuk menciptakan kesejahteraan sosial"

Seperti quotes di atas, sampai saat ini gw percaya kalo yang namanya politik adalah salah satu media yang bisa menciptakan kesejahteraan sosial. Bukan sesuatu yang mutlak. Makannya gw nggak bilang satu-satunya, tapi salah satu. Dengan adanya politik, orang bisa memiliki "power" untuk menciptakan suatu kebijakan. Nah, sekarag tergatung power yang digunakan itu, apakah bisa membuat kebijakan yang pro terhadap kesejahteraan lingkungannya atau malah justru buat kepentingan golongan dan pribadinya saja.
Jadi, kadang gw sering senyum-senyum sendiri pas baca tulisan orang, update status, tweet, atau ngomong langsung sama orang, dan orang itu bilang,"Gue paling nggak suka sama politik. Politik itu bulshit".
Kenapa gw malah senyum? Yaa...karena mungkin yang bilang politik itu bulshit sedang khilaf, atau malah belum mengerti apa yang dinamakan sebagai politik itu sendiri. Mungkin yang lebih pantas dibilang bulshit itu bukan politiknya, tapi orang yang saat ini sedang berada di dunia politik, alias "politikus". Nah, kalo ngomongin politikus, terlebih di Indonesia, negara yang demokrasi sangat dijunjung tinggi ini (katanya sih gitu), politikus memang kebanyakan bulshit. Kebanyakan lho ya! Artinya sebagian besar. Dan artinya lagi, sebagian kecilnya masih ada yang nggak bulshit. :) 
Kalo ada yang tanya,"Heh yam! kok lo berani bilang kalo politikus Indonesia sebagian besar bulshit?" 
Jawaban gw simpel, kalo emang politikus nggak bulshit, setidaknya media Internasional yang namanya Reuters nggak bakalan dapet foto Anak Sekolahan yang gelantungan di jembatan, nyeberang kali antar desa di Lebak, Banten, demi bersekolah. Hm...intermezo dikit, aneh juga ya, ada Anak Sekolahan di Banten gelantungan susah payah demi jalan ke sekolahnya. Padahal, wakil gubernurnya yang sekarang dulu pernah jadi pemeran Si Doel Anak Sekolahan. Hihihi....mungkin benar kalo ada asumsi bahwa "Panggung drama tidak bisa mutlak disamakan dengan dunia nyata"
Oke. Balik lagi ke topik. Ini gw lagi bicara soal politik ya....
Beberapa hari yang lalu, gw baca kultwit akun "anonim" tentang cara sebuah partai untuk mendapatkan suara dari kaum muda. Sepintas, gw kurang percaya sih. Tapi, pas gw cek di google, tentang ormas yang terintegerasi langsung sama partai itu, dan event yang saat ini sedang digandrungi oleh kaum muda yang mengusung tema "Mengganti untuk menjadi lebih baik" (kalo kata temanya gw miripin, ntar bisa ketebak), kok ada sesuatu yang mirip ya? 
"Mirip gimana Yam?
Gini, dari halaman 1 hasil pencarian google, dapat dilihat bahwa ada integerasi antara member yang ada di ormas yang langsung di bawah partai politik itu dengan keikutsertaan beberapa member di event "perubahan" itu. Maksudnya? Yaa...sederhananya, banyak member ormas yang ikutan di acara itu. Hehe? Sama-sama mbingungin ya kalimat gw? Hahaha....gw sendiri juga bingung. :p
Oke. Masih kurang meyakinkan. Gw klik salah satu website yang katanya bikinan mahasiswa sebuah kampus besar. :) 
Website tersebut memuat aktivitas ormas yang gw bilang tadi. Dan....hm...ternyata di website itu juga memuat tentang event yang gw bilang tadi di atas.
Hm....mungkin ini kasus kebetulan. Iya. Gw juga menduganya seperti itu. Semoga saja. :)
Tapi intinya yang pengen gw omongin adalah....

"Berpolitik itu sah-sah saja. Asal jangan nanggung. Dan harus tau tujuannya apa"

Gini deh, kalo lo masuk organisasi, terus lo nggak tau visi misi organisasi itu, terus lo nggak ngerti siapa orang yang ada di dalem organisasi itu secara menyeluruh, itu sama aja lo bakalan jadi mangsa potensial bagi organisasi itu. Maksudnya, lo dengan mudah bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Sukur-sukur kalo kepentingan itu baik. Tapi kalo nggak?
Oke. Kayaknya udah kepanjangan deh gw nulisnya. Mending to the point aja kayaknya deh....
Intinya satu. 

"Gw bangga kalo pemuda di Indonesia sudah peduli dengan politik. Apalagi kalau pemuda itu nggak cuma beropini dari A sampai Z, tapi ada wujud nyata yang bisa dikasih ke lingkungannya. Nggak usah muluk-muluk"

Yang diperlukan itu kan? Kesejahteraan yang merata? Percuma kalo kita eksis dengan berbagai slogan dan tagline yang diangkat, tapi masih banyak orang yang nggak merasa mendapat dampak nyata dari slogan kita. Misalnya gini deh yang gampang, dulu SBY mengangkat slogan STOP KORUPSI, tapi faktanya, kroni-kroninya dia yang tersengat kasus korupsi. Hehehe...untunglah SBY bukan pemuda. :)
Masih berkaitan dengan penyampaian gw di atas,

"Kenali dulu organisasi yang kamu ikuti. Jangan cuma ikut-ikutan."

Nggak kenal ya nggak sayang. nggak bisa juga keluar cinta yang tulus nantinya. Jadinya cuma cinta monyet. Nah lo? Cinta buta juga bisa dong? Bisa. Apalagi kalo kenalannya cuma setengah-setengah. Udah terlanjur cinta, tapi malah cuma diporotin. Ini mirip banget nih kayak modusnya NII pas lagi cari mangsa para pemuda pemudi yang haus akan ilmu agama. Eh malah diisengin dengan iming-iming surga. hehe....

"Terinspirasi itu suatu hal yang lumrah."

Gw sering terinspirasi sama orang tak terduga. Pernah gw terinspirasi pas lagi makan soto, terus ada orang gila masuk ke warung soto itu dan minta rokok ke gw. Dia bilang,"Rokok itu mempercepat hidup saya mas. Daripada hidup saya nggak berguna di bumi". Nah, intinya apa? Rokok itu berguna buat mempercepat hidup. Orang gila itu sadar hidupnya sudah nggak berguna. Jadi lebih baik mati pelan-pelan. Hihihi....
Sekarang udah lagi banyak model nih yang menginspirasi. Tapi inspirator itu kan nggak sepenuhnya sempurna. Jadi, ikuti aja pepatah "Jangan liat siapa yang ngomong, tapi fokus ke omongannya". 
Tapi susah kan? Kebanyakan dari kita lebih terinspirasi sama para "tokoh". Bayangin kalo orang gila bilang,"Hidup itu perjuagan. Jangan kau sia-siakan hidupmu." Pasti bakal diketawain. Tapi kalo yang bilang kayak gitu Mario Teguh? Artis Choki Sihombing? Atau orang-orang beken lainnya? Pasti banyak yang bilang.... "Inspiriiiiiingggg....."
Eh...udah kepanjangan ya gw nulis?
Haduh....esensinya udah masuk belum ya? 
Semoga aja sih ada hikmah yang bisa didapat dari tulisan ini. Menginspirasi orang adalah hal yang membanggakan. Tapi percuma jika inspirasi itu hanya berimbas pada golonganmu sendiri.
Contoh simpelnya, lo punya anggaran 100 ribu per bulan buat ikut seminar motivasi. Nah, sekarang lo lebih milih mana, lo pake duit lo itu buat dateng ke seminar tiap bulan, atau lo pake duit lo buat nyekolahin 1 anak jalanan yang nggak bisa lanjut sekolah ke SD/SMP/SMA karena susah dapet duit 100 ribu? 
Udahan dulu ah. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya. 

"Mari berlomba-lomba untuk berpolitik yang baik, dan transparan"

Sunday, January 8, 2012

Awal dari Suatu Cerita

Ini dunia mahasiswa. Ini dunia yang harusnya bisa membuka mata semua kalangan, kalau dunia mahasiswa itu dunia perjuangan. Seperti ikan salmon yang berjuang di dua alam air, dunia mahasiswa adalah dunia yang berjuang di dua alam, alam akademik dan alam realita. Semuanya itu bisa menjadi bahan cerita.

Secangkir kopi, secarik kertas, sebatang pena, sepasang kaca, dan jari yang menari.

Inilah kisah mimpi, semoga terealisasi. Bukan untuk menginspirasi, apalagi untuk menonjolkan suatu eksistensi. Tapi hanya ingin menunjukkan bahwa cerita itu bisa bicara. Bicara tentang suatu dunia.

Secangkir kopi,
Ini kawan pertama. Pernah kudengar tentang filosofi kopi "modern" dari seseorang dalam sebuah forum diskusi.

Cara membuat kopi jaman sekarang bisa menentukan apakah seseorang mau enaknya saja, apa mau berjuang untuk menciptakan cita rasa dalam kehidupan. Kenapa? Karena cara membuat kopi sekarang bisa dibedakan menjadi dua. Dengan kopi instan, atau dengan kopi konvensional. Dengan kopi instan, orang hanya perlu menuangkan sebungkus kopi yang lengkap dengan takaran standar produksi. Sedangkan dengan kopi konvensional, orang harus menakar sendiri seberapa banyak bubuk kopi, gula, dan susu jika diperlukan untuk mencipkatakan cita rasa kopi yang diinginkan.

Hasilnya, tentu saja berbeda. Cita rasa kopi instan akan sama rasanya sesuai standar. Sedangkan cita rasa kopi konvensional memerlukan skill tersendiri untuk membuatnya sesuai dengan keinginan lidah. Hanya sekali bisa? Tentu tidak. Lidah dan tangan tidak bisa disatukan hanya dengan membalikkan telapak tangan.


Secarik kertas,
Tumpukkan lembaran, lalu diambil selembarnya untuk memulai suatu goresan. Terlalu konvensional memang jika di jaman secanggih ini, kertas masih menjadi bahan utama untuk bercerita. Namun, itulah seninya. Kertas bisa menjadi bukti otentik suatu perjuangan.
Bisa dibilang, secarik kertas ini adalah suatu landasan. Landasan untuk menjabarkan kata demi kata yang akan diceritakan sebagai suatu langkah awal. Tanpa adanya landasan, rasanya akan sangat sulit, dan tak mungkin cerita akan berlanjut.

Sebatang pena,
Menari-nari di atas secarik kertas, menggoreskan mata pena ke atas kertas, dan mengucurkan tinta yang ada di dalamnya, membentuk huruf demi huruf alfabetik yang bisa dibaca oleh semua kalangan. Bisa dibaca oleh semua kalangan. Sekali lagi. Bisa dibaca oleh semua kalangan. Akan sangat percuma jika goresan antara mata pena dengan secarik kertas hanya bisa dibaca oleh kalangan tertentu. Tidak universal, itu kata lainnya.
Cerita ini bukan cerita untuk suatu sekte, aliran, suku, ras, agama, atau golongan tertentu. Ini cerita yang bisa dibaca oleh semua kalangan. Goresan alfabetik itulah yang nantinya akan menentukan.

Sepasang kaca,
Seiring berjalannya waktu, atau mungkin, sudah menjadi suratan takdir jika ternyata mata tak selamanya bisa melihat secara normal. Itu yang terjadi sekarang, dan bantuan sepasang kaca berdimensi minus satu untuk membantu mata melihat secara normal sudah terpasang. Semuanya untuk melihat, dan nantinya mentranformasikan penglihatan itu ke dalam suatu cerita yang tertulis. Mata, dan kaca mata. Minus, dan non minus. Dalam cerita tentu ada yang demikian. Tidak selamanya suatu cerita akan berjalan dengan skema yang normal. Perlu ada dinamika yang berjalan, dan dinamika itu salah satunya adalah dinamika minus.

Jari yang menari,
Terakhir, ceritanya akan ditentukan oleh jari yang menari. Jari yang akan selalu menggoyangkan kata demi kata, membantu mata membaca tulisan yang tergores di secarik kertas oleh sebatang pena, dan menorehkannya ke dalam layar netbook yang sudah hampir mencapai usianya yang ke empat. Sama seperti usiaku yang sudah hampir melangkah mendekati ke angka empat di suatu almamater ini. Almamater yang mendewasakan orang yang belum dewasa. Harusnya seperti itu.

Secangkir kopi, secarik kertas, sebatang pena, sepasang kaca, dan jari yang menari
Semuanya terkombinasi dalam suatu retorika yang akan bercerita. Dan semua cerita itu harusnya akan terselesaikan. Semoga saja.

Wednesday, January 4, 2012

Terbuka dengan Ngapak

Sebuah kisah fiktif, kelanjutan The Story of Ondel-Ondel

"Jawa itu luas boi! Jakarta kalo kata guru geografi juga termasuk Jawa! Jangan ngaco lu!" Ucap Dita dengan kesalnya ketika daritadi Dyka hanya menjawab pertanyaannya dengan satu kata, Jawa.
"Dari Ujung kulon sampai ujung wetan ini semuanya Jawa! Jangan lu anggap yang namanya Jawa itu cuma Jawa Tengah sama Jogja aja! Itu nggak fair!" Lanjut Dita seperti mulutnya tak punya rem.
"Iya! Dia orang Jawa." Kataku lagi.
"Halah! Terserah lu deh. Mau yang ada di pikiran lu cewek Jawa, Sunda, Arab, terserah. Yang penting, duit kost jangan sampe telat lagi kayak kemaren! Males gue denger ceramah induk semang tiap awal bulan." Kata Dita, bujang Lampung yang ditakdirkan sekamar dengan Dyka dalam ruangan kost berukuran 5 x 8 meter.
"Oke! Demi cinta apapun gue lakukan!" Kata Dyka sambil tersenyum.
"Dasar orang gila!" Gerutu Dita sambil lalu dan keluar dari kamar kostnya.
Sementara itu, Dyka masih berada di dalam kamar kostnya, menghadap ke layar laptop dengan segudang pekerjaan kampus yang harus diselesaikan olehnya. Lima menit berlalu, hanya ada detakan jarum jam yang menempel di dinding kamar kostnya dan menggema ke seluruh dinding tembok di ruang kostnya.
Mata Dyka melirik ke arah kiri, tepat mengarah ke sederetan angka yang berurutan dari angka satu hingga angka tigapuluh. Ada satu angka di deretan angka itu yang sudah dilingkari olehnya.

Tiga hari lagi. Dan itu akan menjadi hari penentuan, apakah memang doaku terkabul. Dulu yang terkisah adalah ucapanmu bahwa kau adalah orang yang selalu menerima semua hal dengan apa adanya. Bukan adanya apa. Dan itu yang kuharapkan pada tanggal itu, ada masa di mana ke-apa adaan yang kau katakan bertahun lalu masih melekat. Aku tak menuntutmu, tapi aku hanya berharap kalau Tuhan menakdirkan kita untuk berjalan di arah yang sama, dalam nuansa yang indah.

***
Banyumas, Awal Maret 2011

Ini Jawa. Secuil wilayah yang masih berada di wilayah Jawa, dengan budaya yang masih men-Jawa walau tak semuanya bisa dikatakan Jawa. Banyumas, wilayah Jawa Tengah di bagian barat, secara geografis sudah berada di wilayah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Budayanya pun bercampur. Cablaka, ngapak, atau lebih dikenal dengan keterusterangan. Apa adanya. Seperti yang selalu kukatakan. Apa adanya harusnya sudah mengalir di darah kita, karena kita ada di wilayah yang berbudaya sama. Dan sesaat lagi, aku akan melangkah ke halaman rumahmu.


Liburan akhir semester ganjil yang menegangkan bagi Dyka. Ini kali ketiga dia melangkah ke halaman rumah Bintang, dan kali ini dia tak memberikan kabar kalau Dyka akan mengunjungi gadis yang ada dalam akhir doanya setiap hari.
"Kata Dita, aku orang bodoh karena bertahun-tahun tak bisa beralih ke lain hati. Tapi aku bukan orang ceroboh yang tidak memperhitungkan segala langkahku ketika berjalan." Gumam Dyka dalam hati, tepat ketika dia memarkir motornya di sebuah toko besar bercat hijau tua di tepi jalan.
"Semoga saja dia terkejut secara positif. Bukan....." Pikir Dyka sambil memantapkan langkahnya.
Langkah cepat Dyka terhenti ketika dia menghadapi suatu etalase besar toko itu. Seorang wanita umur dua puluh tahunan menyapanya.
"Mau beli apa mas?" Tanya wanita berjilbab hitam itu.
"Oh...nggak mbak. Mau ketemu Bintang ada?" Jawab Dyka sambil kepalanya mendongok ke arah dalam toko. Biasanya jam segini dia yang jaga toko kalau lagi nggak kuliah. Pikir Dyka.
"Yah, Mas....sayang banget. Baruuuuu aja lima menit yang lalu Mbak Bintang keluar sama mas Ilil. Dijemput pake mobil." Kata Wanita berjilbab tadi, sepertinya dia pelayan toko yang dipekerjakan oleh orang tua Bintang.
Bahu Dyka super lemas mendengar jawaban dari mulut wanita yang ada di hadapannya. Kaca etalase yang disentuh oleh tangannya sedari tadi seketika langsung berembun ketika telapak tangannya mengucurkan keringat dingin.

Seketika kau muncul dengan mimpi lama yang sepertinya akan terwujud. Namun aku terlalu berani untuk menjemputmu sekarang. Dan keberanianku terbayar oleh ketidakpuasan batin. Aku telah menunggumu dalam waktu lama, dengan keterbukaan. Namun justru kau menutup segala keterbukaan yang harusnya kau sampaikan. Terbuka bukan berarti harus menerima. Kau harusnya juga mengerti dan bisa menolak ketika aku menyampaikan cinta padamu. Cinta yang polos.


Pikiran Dyka seketika melejit berubah dari bunga menjadi lumpur.


Perjalanan Banyumas - Jakarta nanti sepertinya akan berkisah lebih panjang lagi. Karakter keterbukaan orang Banyumas, orang yang masih dianggap sebagai bagian dari orang Jawa juga sudah menurun ke sekujur darahku. Terbuka bagiku bukan berarti harus berkata dengan nada mengiyakan. Namun, yasudah lah. Kau justru lebih senang menutupi statusmu, atau memang kau sengaja membuka semuanya agar suatu saat nanti aku bisa menjadi ban serep ketika ban mobilmu tertancap paku di tengah jalan.


***
Pertengahan Maret 2011
Jakarta sudah senyap ketika jam di kamar Dyka sudah menunjukkan pukul 00.34 WIB. Mata Dyka masih terpaku pada layar leptopnya, dengan setumpuk tugas karya ilmiah yang harus diselesaikannya paling lambat besok pagi.
"Jriiing...." Bunyi notifikasi dari ponsel Android di sebelah leptop mengganggu konsentrasi Dyka dalam menatap layar leptop. Ditatapnya ponsel putih miliknya. Sebuah notifikasi dari facebook for android muncul. Satu private message dikirimkan oleh seseorang yang sudah tak asing baginya. Orang yang membuatnya kembali dari Banyumas ke Jakarta dengan bahu lemas. Senyum lebar terlukis dari wajah kusut Dyka. Dengan gugup, dia membuka pesan yang dikirim oleh Bintang melalui facebook.

Mas, kamu kemarin ke rumah?
Maaf, waktu itu aku lagi jalan keluar. 

Tak butuh waktu lama bagi Dyka untuk membalas pesan itu,

Iya. Kata orang di toko, kamu lagi jalan. Sayang banget kita nggak ketemu.

Semenit, dua menit, hingga setengah jam berlalu. Harusnya ada respon yang diberikan kembali oleh Bintang. Itu harapan Dyka. Beberapa kali Dyka menyentuh ponselnya, namun belum muncul juga apa yang diharapkannya. Penasaran, Dyka membuka profil facebook milik Bunga.
"Hhh....benar...." Kata Dyka dalam hati. Bahunya yang sempat menegang, menjadi lemas seketika. Dyka beranjak dari meja kerjanya dan meninggalkan setumpuk tugas yang harusnya dia selesaikan. Direbahkannya badan Dyka ke kasur yang sudah terselimuti oleh udara dingin Jakarta.
Dari layar ponsel yang masih menyala, sebuah foto menampilkan apa yang tak ingin Dyka lihat. Dua orang yang sudah sangat dikenalnya, berpose dengan pakaian adat khas Banyumas yang merupakan masih berada di wilayah Jawa Tengah. Si Pria mengenakan pakaian Beskab, dan si wanita dengan anggunnya berada di samping pria itu dengan pakaian Nyamping. Di atas foto tersebut, tertulis judul album yang membuat harapan Dyka untuk bisa menjadi pendamping Bintang di masa depan sirna. Judul album "Tunangan", yang dibuat oleh Bintang.

Mungkin kita memang benar-benar berbeda. Aku dilahirkan oleh keturunan dengan budaya Banyumas yang blak-blakan. Namun, kau menutupinya lalu membuatku harus mencari keterbukaanmu.


-End

Tuesday, January 3, 2012

The Story of Ondel-Ondel (Part 1)

Sebuah kisah fiktif

Namamu selalu terucap di akhir sujudku, di urutan kedua setelah keluargaku. Namamu mendahului kawan-kawanku, serta orang-orang yang ada di sekitarku. Karena kau jugalah yang menginspirasi hidupku, selain orang yang ada di lingkungan keluargaku. Walau aku tak tahu apa yang sekarang ada di benakmu, bahkan, aku hanya bisa tahu tentang dirimu hanya dari catatan-catatan yang kau buat di halaman blogmu. Paling tidak selama dua tahun belakangan ini. Jemari Dyka menuliskan kata-kata yang ada di benaknya, selepas subuh, dan hanya ditemani oleh Jakarta yang masih sunyi. Secangkir kopi panas mengepulkan aroma khas kopi daerah lampung yang dibawakan oleh seorang aktivis sebuah universitas di daerah Lampung saat dia berkunjung ke Jakarta, juga menemani Dyka menuliskan beberapa kisah yang terbayang di ingatannya.

Sesekali Dyka menatap sebuah benda berbentuk silindris, berukuran tinggi sekitar limabelas centimeter dan berdiameter sepuluh centimeter. Benda itu berbahan plastik, dan di dalam benda itu terlihat benda lain, yang membuat Dyka tersenyum setiap melihat benda itu. Bukan benda langka yang dilihatnya, semua orang bisa membelinya di outlet yang menjual benda itu. Namun, kisah yang tergores di dalam benda yang ditatapnya saat ini, membuat benda itu memiliki nilai lebih dibanding benda sejenis yang dijual di luar sana.

Boneka Ondel-ondel. Itulah yang ditatapnya, ditata rapih di atas meja keja di kamar kostnya. Benda yang selalu berdampingan dengan laptopnya ketika Dyka sedang menulis di pagi buta, sebelum dia melakukan kegiatan yang membuatnya penat setiap minggu. Kuliah, berfikir tentang ilmu-ilmu yang tak jarang berseberangan dengan jalan pikirannya. Boneka ondel-ondel yang tertata rapih, selalu tersenyum, dan selepas melihat benda itu pula, Dyka mulai tersenyum, sembari menuliskan kembali apa yang ada di benaknya.

Semoga saja kau akan bertemu dengan pasanganmu lagi kelak. Kata Dyka lirih di pagi buta, di tengah-tengah dia menuliskan kata-kata dan merangkainya menjadi kalimat cerita pendek.

Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Ditolehkan kepala Dyka ke atas tempat tidur. Teman sekamarnya, Dita masih terlelap. Mungkin badan gempalnya masih terlalu berat untuk terangkat, sampai akhirnya waktu subuh sudah hampir habis.

“Boi! Bangun boi! Subuh!” Dyka mengetuk-ngetuk pundak kawannya yang masih terpejam. Sekali, masih belum bereaksi, dua kali, dan akhirnya, karena tak sabar dengan kawannya itu, disentilnya telinga kanan Dita sekencang mungkin oleh Dyka.

“Hhhhhrrrhhh....” Dita hanya mengulet saja. Badan gempal pria itu masih belum beranjak dari tempat tidurnya.

“Subuh boi!” Kata Dyka lagi.

“Hhhrrrh.....jam berapa?” Tanya Dita.

“Jam lima lebih seperempat. Buruan.” Kata Dyka, sudah sadar kawannya telah mengumpulkan nyawanya untuk sembahyang subuh, Dyka kembali menuliskan beberapa kata di halaman blognya.

Mungkin jika dua tahun lalu aku tak melakukan kebodohan yang berlebihan, mungkin jaminan ondel-ondel ini akan bertemu dengan pasangannya akan lebih besar dibanding situasi dan kondisi sekarang. Yah....apa mau dikata. Kini hanya doa yang bisa terpanjat, bagi ondel-ondel ini untuk menemukan pasangannya yang ada di tempat yang berbeda, dan berbeda pemilik pula. Dyka mengakhiri tulisannya yang belum berujung indah, lalu memindahkan halaman blognya ke halaman berita. Banyak berita ekonomi yang harus dibacanya sebelum dia memulai perkuliahan mikroekonomi pagi ini.

***

Dua tahun, ibarat waktu yang terlampau lama untuk tak berhubungan secara langsung dengan dirimu.Aku tak tahu seperti apa dirimu, bagaimana dirimu, dan apakah kau masih mengingatku. Jam menunjukkan pukul 17.30. Waktu perkuliahan telah usai sejam yang lalu. Dan kini Dyka menikmati waktu istirahatnya dengan sebungkus kotak capuccino instant sembari menatap beberapa situs berita dan situs sosial media dari laptopnya. Matanya seperti menatap tajam layar laptop itu. Namun, pikirannya entah melayang ke belahan dunia sebelah mana, dia sendiri masih tak tahu. Di hadapannya, beberapa kawannya sedang asyik menikmati permainan game Pro Evolution Soccer dari sebuah laptop. Dan di sekitaran longue kampusnya, ratusan mahasiswa tengah sibuk dengan kesibukan seninnya masing-masing.

Yah....masih belum diupdate. Badan Dyka lemas ketika matanya menatap tanggal terakhir sebuah blog rutin dilihatnya setiap senin. Blog pemilik ondel-ondel perempuan, pasangan ondel-ondel pria yang ada di meja kerja di kamar kostnya.
Mungkin, dirimu telah tersibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang memang menyibukkanmu. Aku yakin, kau kini telah menjadi orang yang lebih sibuk dibanding beberapa tahun yang lalu. Kau telah menjadi mahasiswi, yang tak hanya berpikiran sempit. Pikiranmu pasti telah terbuka dengan hal-hal baru. Pikir Dyka pada pemilik ondel-ondel perempuan yang namanya selalu muncul di setiap hari-harinya.

Mungkin......Belum sempat Dyka mengungkapkan kemungkinan yang ada di benaknya, sebuah email notifikasi dari situs jejaring sosial facebook muncul, membuatnya berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Bintang Safira confirmed you as a friend on Facebook.

Mata Dyka kini terpusat di layar laptopnya, yang menunjukkan halaman akun situs sosial media facebook miliknya. Segala hal terkilas balik secara cepat di benaknya. Semuanya berputar seperti melebihi kecepatan rotasi bumi terhadap porosnya. Kilas waktu lima tahun, empat tahun, hingga dua tahun lalu, tergambar di pikirannya. Orang yang dia kira telah melupakannya, kini muncul di halaman sosial medianya.

Wajah Dyka yang tadinya datar, biasa saja, tak ada hal istimewa, berubah menjadi sumringah, bahkan lebih dari sumringah. Hanya karena konfirmasi di akun facebooknya. Tak terasa, saking sumringahnya, ekspresi berlebihannya membuat kawan-kawan yang ada di hadapannya, yang tadinya sibuk dengan game yang dimainkan oleh mereka menjadi mengarahkan pandangannya ke Dyka.

“Woy! Dasar! Ini tempat umum boi! Jangan gila di sini.” Kata Dita melihat kawan sekamarnya mengekspresikan kegembiraannya.

Dyka yang mendengar komentar temannya hanya menaikkan kedua alis matanya ke atas dan menurunkan kembali ke bawah. Cengar cengir tak jelas, lalu menatap layar laptopnya lagi. Dia melakukannya berulang-ulang.

“Dasar, kawan lo ini dit. Udah gila rupanya dia. “ Kata Nanda, teman yang sedang bermain game juga dengan Dita.
Mungkin aku memang terlalu berharap, bahkan terlalu berlebihan dengan apa yang diharapkan olehku. Namun, sesuatu yang menjadi keyakinan tak bisa luntur begitu saja, walau harus melewati jangka waktu yang lama. Dan saat ini, jangka waktu itu memberikan ruang untuk membali menemukan titik temu yang sempat terputus. Berlebihan, mungkin.Sesuatu yang harusnya bisa ditanggapi biasa saja, namun karena kisahnya sangat panjang, bagiku, itu menjadi luar biasa. Ungkap Dyka dalam hati, mengabaikan komentar kawan-kawannya.


Bersambung.

Friday, December 23, 2011

Guratan Senyuman


Tulisan fiktif!

Jeh bahl moh reun cheh jee nang gah yo
Jeh bahl noon geel doh joo jee mah yo
Moh rae bah rahm gah teu nahl deul eh
Ah moo guht doh nae geh joo jee mah yo

Alunan musik bervolume kecil, bertempo lambat berbahasa korea memecah keheningan rumah nomor 655 Bobos Villa. Angin musim semi mulai masuk dari jendela balkon yang terbuka. Tirai jendela yang tak terikat seperti ingin terbang dari sisi atas jendela, keluar mengikuti arus angin pagi itu.
Ya! Ini sudah di korea. Sudah 2 tahun lalu, saat kudengar kau mengucapkan kata korea pertama kali. Dan kini aku berada di sini melukiskan kata-katamu. Ungkap Yuri dalam hatinya, tangannya masih sibuk menggoreskan pensil tebalnya ke kain kanvas yang ada di hadapannya. Sudah dua jam lamanya. Dan sesosok wajah dengan guratan senyumnya dengan sangat jelas tergambar di atas kain kanvas itu.
Aku menggambarkan untukmu yang ketiga kalinya. Dan semoga guratan senyum yang tergambar ini sama seperti saat kau menerima gambar ini dari kurir yang mengantarkan paket dariku, untukmu. Lanjut Yuri.
Cairan kopi yang sudah mulai dingin di dalam cangkir menggelombang ketika getaran langkah mendekat menuju ruangan kamar Yuri. Tanpa perlu Yuri beranjak dari duduknya, pintu ruangan kamarnya bergeser terbuka, oleh sesosok yang sudah tak asing baginya. Dia orang pertama yang ditemuinya ketika langkah kakinya baru pertama kali menginjakkan Incheoun International Airport.
“Hey! ajigdo dangsin-i daleun yeojaleul balagoiss-eo. Sepertinya gadis korea tak ada yang bisa merubah jalan pikiranmu tentang wanita sempurna di muka bumi ini. Haha….” Kata Ahnjung, pria yang baru masuk ke ruangan Yuri. Dia satu tahun lebih tua dari Yuri.
“Hhh….” Tanggap Yuri, seperti mengeluarkan senyuman, tapi senyuman itu seperti enggan. Semua yang ada di tubuh Yuri masih terfokus pada guratan-guratan pensil yang menari di atas kanvas di hadapan Yuri.
“Dia terlalu pendiam. Mungkin juga dia sebenarnya menolakku. Tapi dia tak sanggup mengeluarkan kata-kata tegas padaku.” Yuri mulai bersua.
“meongcheonghan indonesia-eo! Kau terlalu takut untuk mencari gadis yang lebih sempurna dari dia.” Ahnjung menoyor kepala Yuri yang masih menyeriusi sosok berjilbab yang digambarnya. Yuri hanya kembali mengeluarkan senyum engganya.
“Hm…tapi bagus juga gambar kamu. Mau kau kasih ke profesor Juan? Ini tugas akhirmu?” Belum sempat Yuri menoyor Ahnjung, Ahnjung sudah menimpali dengan pertanyaan lanjutan.
“Hm…mungkin.” Kata Yuri singkat.
Harusnya tahun ini aku akan kembali ke negaramu. Dan negaraku juga. Namun, Seoul Institute of the Arts, tempat impianmu waktu kau masih kuliah sarjana dulu masih menahanku hingga musim gugur mendatang. Mungkin aku harus masih bersabar agar bisa melihatmu kembali secara langsung. Bukan hanya melalui layar maya. Dan itu pun aku tak berani menyapamu secara maya.
***
Motor dengan kecepatan 20 km per jam menelusuri jalanan sebuah perumahan di kota Depok. Dulu kota ini hanya sebagai kota pinggiran, kota tempat kaum urban yang tak bisa membeli apartemen dalam kota Jakarta mencari tempat tinggal. Namun kini, 2 tahun berlalu, Depok telah berevolusi menjadi kota. Kota yang dipenuhi oleh kaum urban, mahasiswa, dan telah menjadi salah satu tujuan utama manusia-manusia muda di seluruh penjuru negeri untuk mendapatkan gelar sarjana, master, doktor, hingga profesor.
Motor itu terhenti di perumahan nomor 8, ber cat krem. Di halaman rumah itu, sebatang pohon mangga berukuran sedang berdiri tegak. Badannya terlalu berat menahan puluhan mangga yang sudah mulai membuah.
“Permisi….” Teriak Pengendara motor dengan seragam khas kurir sebuah perusahaan drop shipping ternama di dunia sambil mengeluarkan sebuah paket berdimensi 40 x 60 cm dengan tebal sekitar 10 cm dari dalam box besar yang ada di motor bagian belakang.
“Pakeeett….” Teriak pria itu lagi merasa belum ada yang merespon dari dalam rumah.
“Teng…teng…teng…” Tak sabar, pria itu membentur-benturkan gembok yang menggantung di pagar besi rumah itu. Saat itulah setelah beberapa menit berlalu, pintu rumah terbuka. Sesosok berjilbab putih dengan kacamata agak tebal keluar dari rumah itu dengan sedikit tergesa.
“Permisi mbak. Bisa ketemu sama Mbak Liana?” Tanya pria tadi setelah gadis berjilbab itu berada di hadapannya, dengan batas pintu gerbang rumah setinggi dada orang dewasa.
“Iya…saya sendiri. Ada apa ya?” Tanya Liana, gadis berjilbab itu.
“Oh….ini mbak! Paket.” Pria itu menyerahkan paket yang dikeluarkannya tadi kepada Liana.
Mata Liana tertuju pada sudut kanan bawah dimensi paket. Tertera nama pengirim dan alamat yang dua bulan lalu juga mengirimkan paket. Mungkin hampir sama isinya. Goresan senyum tergambar dari wajah Liana begitu dia membaca nama dan alamat pengirim dari paket yang ada di tangannya.
“Mbak, tanda terimanya dulu…” Kata kurir paket sambil menyodorkan tanda terima dan sebuah pena kepada Liana.
“Oh…iya…” Liana sedikit terkaget karena fokusnya hanya pada paket yang baru diterimanya. Tangan kanan Liana meraih pena yang diberikan kurir, lalu menandatanganinya. “Makasih ya mas….”
Tak sabar Liana berjalan cepat ke arah kamarnya. Dengan halus dibukanya paket yang baru diterimanya tadi. Tak lupa, dia melepas nama dan alamat pengiri yang ditempel di paket itu, lalu ditempelnya di buku harian yang ada di meja kamarnya.
Secarik naskah dengan kardus pembungkus lukisan muncul begitu paket terbuka.

Untuk Li,
Ini yang ketiga kalinya aku mengirim dari negara lain. Dan ketiga kalinya juga untukmu. Semoga kau masih menyimpan dua kirimanku yang sebelumnya.
Mungkin aku terlalu berharap dengan diammu selama ini, sejak kita masih sama-sama menjadi mahasiswa di kampus yang sama. Semoga diammu bermakna positif bagi lukisan yang ku kirim.

Guratan senyuman kembali muncul dari bibir Liana. Dibukanya lukisan yang baru dia terima. Di bagian sudut bawah lukisan itu, tertera tanda tangan Yuri, dan di sudut atas ada tanda cap dari Seoul Institute of the Arts serta tanda tangan dari sebuah profesor yang menandakan bahwa lukisan itu telah menjadi salah satu bahan tugas akhir bagi mahasiswa yang menyelesaikan master di institusi itu. Grade A.
Liana beranjak dari duduknya di depan meja belajar kamarnya. Dipasangnya lukisan yang baru saja diterimanya dengan bayang bayang senyuman yang sama persis dengan lukisan yang diterimanya. Dari atas meja belajarnya kini mengalun, alunan lagu dari sebuah stasiun radio,

Please, just pass by pretending like you don't see me
please, don't even give me a glance
in the days that are like the sandy winds
don't give anything to me

End.

Narasi Akhir Tahun

Aku bukan seorang role model yang bisa kalian jadikan acuan untuk bertindak, aku bukan daging kolot yang merusak sela-sela gigi dan mengeroposinya hingga gupis.


2011 menjelang penghujung,

Bukan tentang bukan, melainkan tentang suatu tentang yang bertentang-tentangan.....

Tentang Cinta,
Semoga benar, pencarian itu telah usai. Arah angin yang berputar, memuting dalam beliung sudah tak sehebat dulu lagi. Kini angin berhembus ke arah timur, mencoba menelusuri hembusannya yang lurus. Angin mencoba tak berkelok, walau tentu di tengah perjalanannya nanti, pasti akan ada batu atau pohon besar yang harus dihembusi olehnya. 

Tentang Otak Kiri,
Masih belum mengerti tentang suatu perjalanan kebenaran. Apakah benar yang terpikirkan di sela-sela syaraf otak tersebut sudah bisa bermanfaat di kehidupan nyata, atau hanya hafalan untuk mendapatkan predikat "Sangat Baik" dan menghindari predikat "buruk" yang selama ini kebetulan belum pernah dirasakan. Hampir memang, predikat "buruk" secara tertulis akan tersampaikan, namun terselamatkan, mungkin karena faktor yang tak biasa, dan tak biasa juga untuk disampaikan secara ilmiah. Yang jelas, mungkin semuanya harus diakhiri saat pertengahan tahun depan. Saat harus menyelesaikan perjuangan otak kiri untuk memahami suatu pemahaman yang sampai sekarang masih abstrak.

Tentang Otak Kanan,
Mungkin ini yang terpanjang diantara yang panjang. Tentang suatu perjuangan yang tidak bisa dinalar dengan cara penulisan hitam di atas putih, tidak bisa ditelusuri secara birokratif, dan tidak bisa dijadikan parameter dalam suatu pengukuran.
"Orang yang bermanfaat bukan dilihat atas eksistensinya, melainkan mulai dari kebermanfaatannya di lingkungan terdekatnya sendiri". Orang yang memperjuangkan dirinya, bahkan mengaku memasang badan untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri, belum tentu pahlawan, karena dia justru mengabaikan sesuatu yang dilihatnya, dan dia merasa ada kejanggalan, namun dia justru diam saja. Mungkin itu penjelasan tentang pedoman otak kanan yang selama ini tergunakan.
Ini bukan masalah pencarian suatu pengakuan, apalagi untuk meraih suatu eksistensi dan nilai akuntabilitas yang tinggi. Ini hanya suatu penerapan di penghujung akhir yang selama ini tertahankan. Tiga tahun memperjuangkan dengan cara birokratif, kekerabatan, dan penyesuaian ternyata belum bisa menembus kata kebermanfaatan. Mungkin belum terfaktakan tentang tembok eksistensi dan pengakuan yang tak ingin dikalahkan. Validitas tentang suatu perjuangan juga masih diragukan. Tapi semuanya tentu butuh proses, tak hanya proses yang berjalan dan membutuhkan waktu, tetapi juga proses yang konsisten tentang kebermanfaatan bagi lingkungan sekitarnya terlebih dahulu.
Masih tentang otak kanan, sudah terbilang bahwa narasi tentang otak kanan itu terlalu panjang. Karena memang otak kanan lebih sering digunakan daripada memeras dan menekuk-nekuk syaraf otak kiri.
Bukan mencari pembenaran, apalagi melencengkan suatu fakta yang ada. Namun faktanya adalah kebenaran yang muncul justru terhalang-halangi oleh rezim penguasa yang sulit menerima suatu kebebasan dan kemandirian. Atau mungkin, kegerahan yang terasa ketika kebebasan berpendapat itu muncul, lalu memanfaatkan kroni-kroninya untuk mengekang kebebasan itu kembali. Ah, itu hanya prasangka buruk yang hingga sekarang belum terbuktikan. Yang terbukti adalah kesalahpahaman dalam mentranformasikan pendapat antara mulut yang satu dan yang lain. Kesalahpahaman itu membatu, hingga akhirnya secara natural seperti menjadi dua kubu yang tak ingin mengalah.

Tentang asap,
Ada yang beda di penghujung akhir tahun ini. Antara matahari terbit hingga tenggelam, sudah menjadi hal yang biasa terlihat oleh mata ketika bibir mengepulkan asap dan terhirup oleh hidung. Terlebih ketika pada pertengahan tahun, ketika sudah tidak tahu lagi ke mana pelarian harus dilarikan. Mungkin hanya benda diam itu, yang sedikt demi sedikit tergerus oleh panasnya bara api yang menyala, dan berevolusi menjadi asap yang terhirup dan masuk ke dalam tubuh, lalu disebarkan ke semua sel melalui cairan darah merah. Mungkin ini sedikit menangkan, hingga akirnya narasi Tentang Cinta yang tersampaikan di awal bisa mengubah narasi ini.

Tentang persahabatan,
Tidak ada sahabat yang tidak oportunis di tengah kota metropolis yang selalu menuntut aliran materi di setiap lini. Faktanya, ini yang ada dan terpikirkan hingga sekarang. Penyesuaian sangat perlu dilakukan. Materi memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh materi. Ini yang harus menjadi pedoman, walau bukan pedoman mutlak.
Terlepas dari deskripsi mengenai materi, pengertian akan suatu perbedaan mungkin harusnya lebih bisa diperdalam. Ini negara kecil yang terdiri dari ribuan suku perantau yang memiliki watak berbeda-beda. Bukan dipermasalahkan oleh jarak wilayah antara suku asal dan suku kita. Yang ada sekarang, kadang suku terdekat dengan kita sendiri yang justru memiliki banyak perbedaan mendasar. 
Kembali lagi ke retorika mengenai oportunis. Yang ada di kota semetropolis ini sebenarnya bukan tentang persahabatan, melainkan oportunisasi persahabatan. Seseorang yang mengaku-ngaku, dari kutu menjadi raja kutu, dan itu sudah membanggakan. Yah....syukurlah tidak ditemukan hal semacam itu di lingkungan ini.
Tentang harapan dan cita-cita,
Masih banyak yang perlu ditambal, disulam, dan dijadikan kain penghangat dalam dingin, kain yang bisa menutupi diri dari terik panas matahari. Tidak ada alasan lain untuk menyikapi semua hal yang telah diberikan hanya dengan menarik urat syaraf bibir kanan dan bibir kiri sepanjang tiga centimeter ke arahnya masing-masing. 

Jangan arahkan matamu ke arahku, karena aku bukan model yang di"role"kan. 

Kota ter-Metropolis di Indonesia, 25122011
 

LostPhobia Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger