Thursday, December 17, 2009

Klimaks Si Tukang Sound

14 Desember 2009....
Semuanya mencapai klimaks...
Gue nggak nyangka aja, kalo posisi yang sebenernya nggak gue tau, tapi malah mengantar gue ke tempat yang nggak gue sangka sama sekali. Dulu, gue sempet menghayal kalo gue bisa masuk ke dalam sebuah pentas, pentas tingkat tinggi yang bisa dinikmati banyak orang. Bertahun-tahun gue mimpi kayak gitu, dan bertahun-tahun pula, mimpi gue kependam sama hal yang ternyata nggak ada gunanya.
Sampah yang bikin otak gue penuh. Sampah yang malah bikin gue nggak jelas selama bertahun-tahun. Dan sampah itu menghanyutkan gue cuma ke dalam impian fiktif.
Dan sekarang, setelah sampah itu terkikis, impian itu kini kembali muncul. Sayangnya, kemunculan itu bener-bener nggak gue sangka asal muasalnya. Dari posisi soundman. Nggak pernah gue kira, posisi gue yang nggak keterima jadi seorang aktor malah nganter gue jadi seorang soundman. Dan sebenernya, gue nggak begitu berharap juga dulunya. Malah sempet, gue berharap mending nggak jadi apa-apa daripada jadi soundman. Udah nggak pernah dihargai dedikasinya, dan nggak pernah nampang di depan penonton. Udah gitu, kalo salah dikit, yang paling disalahin sama kualitas suara pasti soundman. Itu juga yang gue alami. Sedikit eror, banyak komentar.
Hiah.....
Tapi anggapan itu lama-lama juga hilang. Untung aja gue ketemu sama orang-orang yang ngasih dukungan sama seorang soundman ini. Gue nggak tau juga sih, dukungan itu apa karena dari dalam hati, atau karena cuma gue yang mau jadi apa-apa. Mereka yang selalu ngasih support gue, dari habis maghrib nyampe jam duabelas malam. Hampir selama lima bulan. Dan itu yang bener bikin gue ngerasa ada yang lebih dibalik posisi seorang soundman. Dan mereka itu, nggak lain dan nggak bukan adalah aktor, aktris, sutradara pementasan.
Mereka yang telah merealisasikan mimpi gue, mimpi jaman dahulu kala yang ingin menunjukkan sesuatu sebagai bungkusan seni di tingkat tertinggi. Dan itu kini telah terjadi, 14 Desember 2009.
Festifal TEater Jakarta 2009, di teater luwes IKJ Taman Ismail Marzuki Jakarta. Impian gue, yang dulu cuma jadi pemain band sekolah, pemusik yang nggak jelas, penyanyi suara fals yang nggak dihargai, dan penari kelas teri yang cuma bisa memainkan tangan dan bagian tubuhnya dengan gaya tarian kaku, beku.
Dan itu semua terbayarkan, saat gue memainkan sound, mengeraskan dan melemahkan suara sesuai dengan adegan yang sedang berjalan. Dan itu semua, dirasakan oleh banyak orang, mengangkat semua aspek dari pementasan teater. Pementasan yang jarang bisa dirasakan oleh banyak orang, Pementasan yang harus bersaing dengan orang-orang seni tingkat tinggi, di Ibu kota. Pementasan yang dilihat oleh seniman senior.
Dan di pementasan itu, gue dengan bangga jadi salah satu elemen pementasan. sebagai seorang soundman.


the reflection of lostphobiers

0 ocehan:

 

LostPhobia - Cerita Mahasiswa Dewasa Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger