Sebuah kisah fiktif
Namamu selalu terucap di akhir sujudku, di urutan kedua setelah keluargaku. Namamu mendahului kawan-kawanku, serta orang-orang yang ada di sekitarku. Karena kau jugalah yang menginspirasi hidupku, selain orang yang ada di lingkungan keluargaku. Walau aku tak tahu apa yang sekarang ada di benakmu, bahkan, aku hanya bisa tahu tentang dirimu hanya dari catatan-catatan yang kau buat di halaman blogmu. Paling tidak selama dua tahun belakangan ini. Jemari Dyka menuliskan kata-kata yang ada di benaknya, selepas subuh, dan hanya ditemani oleh Jakarta yang masih sunyi. Secangkir kopi panas mengepulkan aroma khas kopi daerah lampung yang dibawakan oleh seorang aktivis sebuah universitas di daerah Lampung saat dia berkunjung ke Jakarta, juga menemani Dyka menuliskan beberapa kisah yang terbayang di ingatannya.
Sesekali Dyka menatap sebuah benda berbentuk silindris, berukuran tinggi sekitar limabelas centimeter dan berdiameter sepuluh centimeter. Benda itu berbahan plastik, dan di dalam benda itu terlihat benda lain, yang membuat Dyka tersenyum setiap melihat benda itu. Bukan benda langka yang dilihatnya, semua orang bisa membelinya di outlet yang menjual benda itu. Namun, kisah yang tergores di dalam benda yang ditatapnya saat ini, membuat benda itu memiliki nilai lebih dibanding benda sejenis yang dijual di luar sana.
Boneka Ondel-ondel. Itulah yang ditatapnya, ditata rapih di atas meja keja di kamar kostnya. Benda yang selalu berdampingan dengan laptopnya ketika Dyka sedang menulis di pagi buta, sebelum dia melakukan kegiatan yang membuatnya penat setiap minggu. Kuliah, berfikir tentang ilmu-ilmu yang tak jarang berseberangan dengan jalan pikirannya. Boneka ondel-ondel yang tertata rapih, selalu tersenyum, dan selepas melihat benda itu pula, Dyka mulai tersenyum, sembari menuliskan kembali apa yang ada di benaknya.
Semoga saja kau akan bertemu dengan pasanganmu lagi kelak. Kata Dyka lirih di pagi buta, di tengah-tengah dia menuliskan kata-kata dan merangkainya menjadi kalimat cerita pendek.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Ditolehkan kepala Dyka ke atas tempat tidur. Teman sekamarnya, Dita masih terlelap. Mungkin badan gempalnya masih terlalu berat untuk terangkat, sampai akhirnya waktu subuh sudah hampir habis.
“Boi! Bangun boi! Subuh!” Dyka mengetuk-ngetuk pundak kawannya yang masih terpejam. Sekali, masih belum bereaksi, dua kali, dan akhirnya, karena tak sabar dengan kawannya itu, disentilnya telinga kanan Dita sekencang mungkin oleh Dyka.
“Hhhhhrrrhhh....” Dita hanya mengulet saja. Badan gempal pria itu masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
“Subuh boi!” Kata Dyka lagi.
“Hhhrrrh.....jam berapa?” Tanya Dita.
“Jam lima lebih seperempat. Buruan.” Kata Dyka, sudah sadar kawannya telah mengumpulkan nyawanya untuk sembahyang subuh, Dyka kembali menuliskan beberapa kata di halaman blognya.
Mungkin jika dua tahun lalu aku tak melakukan kebodohan yang berlebihan, mungkin jaminan ondel-ondel ini akan bertemu dengan pasangannya akan lebih besar dibanding situasi dan kondisi sekarang. Yah....apa mau dikata. Kini hanya doa yang bisa terpanjat, bagi ondel-ondel ini untuk menemukan pasangannya yang ada di tempat yang berbeda, dan berbeda pemilik pula. Dyka mengakhiri tulisannya yang belum berujung indah, lalu memindahkan halaman blognya ke halaman berita. Banyak berita ekonomi yang harus dibacanya sebelum dia memulai perkuliahan mikroekonomi pagi ini.
***
Dua tahun, ibarat waktu yang terlampau lama untuk tak berhubungan secara langsung dengan dirimu.Aku tak tahu seperti apa dirimu, bagaimana dirimu, dan apakah kau masih mengingatku. Jam menunjukkan pukul 17.30. Waktu perkuliahan telah usai sejam yang lalu. Dan kini Dyka menikmati waktu istirahatnya dengan sebungkus kotak capuccino instant sembari menatap beberapa situs berita dan situs sosial media dari laptopnya. Matanya seperti menatap tajam layar laptop itu. Namun, pikirannya entah melayang ke belahan dunia sebelah mana, dia sendiri masih tak tahu. Di hadapannya, beberapa kawannya sedang asyik menikmati permainan game Pro Evolution Soccer dari sebuah laptop. Dan di sekitaran longue kampusnya, ratusan mahasiswa tengah sibuk dengan kesibukan seninnya masing-masing.
Yah....masih belum diupdate. Badan Dyka lemas ketika matanya menatap tanggal terakhir sebuah blog rutin dilihatnya setiap senin. Blog pemilik ondel-ondel perempuan, pasangan ondel-ondel pria yang ada di meja kerja di kamar kostnya.
Mungkin, dirimu telah tersibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang memang menyibukkanmu. Aku yakin, kau kini telah menjadi orang yang lebih sibuk dibanding beberapa tahun yang lalu. Kau telah menjadi mahasiswi, yang tak hanya berpikiran sempit. Pikiranmu pasti telah terbuka dengan hal-hal baru. Pikir Dyka pada pemilik ondel-ondel perempuan yang namanya selalu muncul di setiap hari-harinya.
Mungkin......Belum sempat Dyka mengungkapkan kemungkinan yang ada di benaknya, sebuah email notifikasi dari situs jejaring sosial facebook muncul, membuatnya berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Bintang Safira confirmed you as a friend on Facebook.
Mata Dyka kini terpusat di layar laptopnya, yang menunjukkan halaman akun situs sosial media facebook miliknya. Segala hal terkilas balik secara cepat di benaknya. Semuanya berputar seperti melebihi kecepatan rotasi bumi terhadap porosnya. Kilas waktu lima tahun, empat tahun, hingga dua tahun lalu, tergambar di pikirannya. Orang yang dia kira telah melupakannya, kini muncul di halaman sosial medianya.
Wajah Dyka yang tadinya datar, biasa saja, tak ada hal istimewa, berubah menjadi sumringah, bahkan lebih dari sumringah. Hanya karena konfirmasi di akun facebooknya. Tak terasa, saking sumringahnya, ekspresi berlebihannya membuat kawan-kawan yang ada di hadapannya, yang tadinya sibuk dengan game yang dimainkan oleh mereka menjadi mengarahkan pandangannya ke Dyka.
“Woy! Dasar! Ini tempat umum boi! Jangan gila di sini.” Kata Dita melihat kawan sekamarnya mengekspresikan kegembiraannya.
Dyka yang mendengar komentar temannya hanya menaikkan kedua alis matanya ke atas dan menurunkan kembali ke bawah. Cengar cengir tak jelas, lalu menatap layar laptopnya lagi. Dia melakukannya berulang-ulang.
“Dasar, kawan lo ini dit. Udah gila rupanya dia. “ Kata Nanda, teman yang sedang bermain game juga dengan Dita.
Mungkin aku memang terlalu berharap, bahkan terlalu berlebihan dengan apa yang diharapkan olehku. Namun, sesuatu yang menjadi keyakinan tak bisa luntur begitu saja, walau harus melewati jangka waktu yang lama. Dan saat ini, jangka waktu itu memberikan ruang untuk membali menemukan titik temu yang sempat terputus. Berlebihan, mungkin.Sesuatu yang harusnya bisa ditanggapi biasa saja, namun karena kisahnya sangat panjang, bagiku, itu menjadi luar biasa. Ungkap Dyka dalam hati, mengabaikan komentar kawan-kawannya.
Bersambung.

{ 5 ocehan... Views All / Send Comment! }
kayaknya kenal sama si bintang, :D
wahahahaha.....
kenalan sama bintang di mana?
hoho
di facebook :|
charming bgt orangnya, dan sekarang GA ALAY! ahaha
hohohoho.....
iya ya?
seberapa charming?
emang dulu bintang tuh alay?
Kak Yama kelihatannya senang bercerita penuh semangat.
Saking semangatnya, semua ingin diceritakan.
Aku 'nunggu part 2 yang lebih rapi dan tajam ya, Kak.
*sodorinsilet*
;)
Post a Comment