Tulisan fiktif!
Jeh bahl moh reun cheh jee nang gah yo
Jeh bahl noon geel doh joo jee mah yo
Moh rae bah rahm gah teu nahl deul eh
Ah moo guht doh nae geh joo jee mah yo
Alunan musik bervolume kecil, bertempo lambat berbahasa korea memecah keheningan rumah nomor 655 Bobos Villa. Angin musim semi mulai masuk dari jendela balkon yang terbuka. Tirai jendela yang tak terikat seperti ingin terbang dari sisi atas jendela, keluar mengikuti arus angin pagi itu.
Ya! Ini sudah di korea. Sudah 2 tahun lalu, saat kudengar kau mengucapkan kata korea pertama kali. Dan kini aku berada di sini melukiskan kata-katamu. Ungkap Yuri dalam hatinya, tangannya masih sibuk menggoreskan pensil tebalnya ke kain kanvas yang ada di hadapannya. Sudah dua jam lamanya. Dan sesosok wajah dengan guratan senyumnya dengan sangat jelas tergambar di atas kain kanvas itu.
Aku menggambarkan untukmu yang ketiga kalinya. Dan semoga guratan senyum yang tergambar ini sama seperti saat kau menerima gambar ini dari kurir yang mengantarkan paket dariku, untukmu. Lanjut Yuri.
Cairan kopi yang sudah mulai dingin di dalam cangkir menggelombang ketika getaran langkah mendekat menuju ruangan kamar Yuri. Tanpa perlu Yuri beranjak dari duduknya, pintu ruangan kamarnya bergeser terbuka, oleh sesosok yang sudah tak asing baginya. Dia orang pertama yang ditemuinya ketika langkah kakinya baru pertama kali menginjakkan Incheoun International Airport.
“Hey! ajigdo dangsin-i daleun yeojaleul balagoiss-eo. Sepertinya gadis korea tak ada yang bisa merubah jalan pikiranmu tentang wanita sempurna di muka bumi ini. Haha….” Kata Ahnjung, pria yang baru masuk ke ruangan Yuri. Dia satu tahun lebih tua dari Yuri.
“Hhh….” Tanggap Yuri, seperti mengeluarkan senyuman, tapi senyuman itu seperti enggan. Semua yang ada di tubuh Yuri masih terfokus pada guratan-guratan pensil yang menari di atas kanvas di hadapan Yuri.
“Dia terlalu pendiam. Mungkin juga dia sebenarnya menolakku. Tapi dia tak sanggup mengeluarkan kata-kata tegas padaku.” Yuri mulai bersua.
“meongcheonghan indonesia-eo! Kau terlalu takut untuk mencari gadis yang lebih sempurna dari dia.” Ahnjung menoyor kepala Yuri yang masih menyeriusi sosok berjilbab yang digambarnya. Yuri hanya kembali mengeluarkan senyum engganya.
“Hm…tapi bagus juga gambar kamu. Mau kau kasih ke profesor Juan? Ini tugas akhirmu?” Belum sempat Yuri menoyor Ahnjung, Ahnjung sudah menimpali dengan pertanyaan lanjutan.
“Hm…mungkin.” Kata Yuri singkat.
Harusnya tahun ini aku akan kembali ke negaramu. Dan negaraku juga. Namun, Seoul Institute of the Arts, tempat impianmu waktu kau masih kuliah sarjana dulu masih menahanku hingga musim gugur mendatang. Mungkin aku harus masih bersabar agar bisa melihatmu kembali secara langsung. Bukan hanya melalui layar maya. Dan itu pun aku tak berani menyapamu secara maya.
***
Motor dengan kecepatan 20 km per jam menelusuri jalanan sebuah perumahan di kota Depok. Dulu kota ini hanya sebagai kota pinggiran, kota tempat kaum urban yang tak bisa membeli apartemen dalam kota Jakarta mencari tempat tinggal. Namun kini, 2 tahun berlalu, Depok telah berevolusi menjadi kota. Kota yang dipenuhi oleh kaum urban, mahasiswa, dan telah menjadi salah satu tujuan utama manusia-manusia muda di seluruh penjuru negeri untuk mendapatkan gelar sarjana, master, doktor, hingga profesor.
Motor itu terhenti di perumahan nomor 8, ber cat krem. Di halaman rumah itu, sebatang pohon mangga berukuran sedang berdiri tegak. Badannya terlalu berat menahan puluhan mangga yang sudah mulai membuah.
“Permisi….” Teriak Pengendara motor dengan seragam khas kurir sebuah perusahaan drop shipping ternama di dunia sambil mengeluarkan sebuah paket berdimensi 40 x 60 cm dengan tebal sekitar 10 cm dari dalam box besar yang ada di motor bagian belakang.
“Pakeeett….” Teriak pria itu lagi merasa belum ada yang merespon dari dalam rumah.
“Teng…teng…teng…” Tak sabar, pria itu membentur-benturkan gembok yang menggantung di pagar besi rumah itu. Saat itulah setelah beberapa menit berlalu, pintu rumah terbuka. Sesosok berjilbab putih dengan kacamata agak tebal keluar dari rumah itu dengan sedikit tergesa.
“Permisi mbak. Bisa ketemu sama Mbak Liana?” Tanya pria tadi setelah gadis berjilbab itu berada di hadapannya, dengan batas pintu gerbang rumah setinggi dada orang dewasa.
“Iya…saya sendiri. Ada apa ya?” Tanya Liana, gadis berjilbab itu.
“Oh….ini mbak! Paket.” Pria itu menyerahkan paket yang dikeluarkannya tadi kepada Liana.
Mata Liana tertuju pada sudut kanan bawah dimensi paket. Tertera nama pengirim dan alamat yang dua bulan lalu juga mengirimkan paket. Mungkin hampir sama isinya. Goresan senyum tergambar dari wajah Liana begitu dia membaca nama dan alamat pengirim dari paket yang ada di tangannya.
“Mbak, tanda terimanya dulu…” Kata kurir paket sambil menyodorkan tanda terima dan sebuah pena kepada Liana.
“Oh…iya…” Liana sedikit terkaget karena fokusnya hanya pada paket yang baru diterimanya. Tangan kanan Liana meraih pena yang diberikan kurir, lalu menandatanganinya. “Makasih ya mas….”
Tak sabar Liana berjalan cepat ke arah kamarnya. Dengan halus dibukanya paket yang baru diterimanya tadi. Tak lupa, dia melepas nama dan alamat pengiri yang ditempel di paket itu, lalu ditempelnya di buku harian yang ada di meja kamarnya.
Secarik naskah dengan kardus pembungkus lukisan muncul begitu paket terbuka.
Untuk Li,
Ini yang ketiga kalinya aku mengirim dari negara lain. Dan ketiga kalinya juga untukmu. Semoga kau masih menyimpan dua kirimanku yang sebelumnya.
Mungkin aku terlalu berharap dengan diammu selama ini, sejak kita masih sama-sama menjadi mahasiswa di kampus yang sama. Semoga diammu bermakna positif bagi lukisan yang ku kirim.
Guratan senyuman kembali muncul dari bibir Liana. Dibukanya lukisan yang baru dia terima. Di bagian sudut bawah lukisan itu, tertera tanda tangan Yuri, dan di sudut atas ada tanda cap dari Seoul Institute of the Arts serta tanda tangan dari sebuah profesor yang menandakan bahwa lukisan itu telah menjadi salah satu bahan tugas akhir bagi mahasiswa yang menyelesaikan master di institusi itu. Grade A.
Liana beranjak dari duduknya di depan meja belajar kamarnya. Dipasangnya lukisan yang baru saja diterimanya dengan bayang bayang senyuman yang sama persis dengan lukisan yang diterimanya. Dari atas meja belajarnya kini mengalun, alunan lagu dari sebuah stasiun radio,
Please, just pass by pretending like you don't see me
please, don't even give me a glance
in the days that are like the sandy winds
don't give anything to me
End.

{ 3 ocehan... Views All / Send Comment! }
ngarep mode on.. :p
Namanya kurang S..
ahhahah
Semangad..!
Kalo ditambah S, ntar jadi dingin.
:)
Wew, jago bercerita rupanya.
Suka banget kalau ada yang menulis dengan rapi.
Akhirnya, berjejak juga di sini :)
Post a Comment