Semoga aja gw nulis ginian atas dasar kesadaran, eh atau penyadaran ya? he
Sebelum berlanjut, disamakan dulu persepsinya, merokok yang gw maksud di sini itu lintingan tembakau yang dibalut kertas khusus dengan teknik pembuatan mutakhir. Di dalamnya juga diramu bumbu-bumbu racikan tradisional alami, seperti cengkeh, lada, garam, merica, lah? Kok malah racikan bumbu dapur? hoho....jadi makin ngawur kayaknya deh.
Merokok itu seni. Ini filosofi yang pertama. Nggak percaya?
Orang ngisep rokok, terus asapnya ngebul dari bara tembakau, terus meresap ke selipan-selipan tembakau yang di dalamnya, dan berujung ke filtrasi busa yang diemut dalam bibir, terus merangsak masuk ke bibir si perokok dan diproses secara naluriah oleh perokok. Mantap kan? Coba gw tanya ke anak-anak pinter yang baca blog ini? Dari jaman TK sampe kuliah, gw yakin nggak ada definisi merokok secara teoritis yang pernah diajarin sama dosen atau guru kalian kan? Hehe...ya, paling nggak definisi merokok gw yang ini bisa jadi bahan rujukan tesis calon master rokok lah kalo gitu.
Coba bayangin. Asap yang tadi diisep sama si perokok. Pergerakan asap bisa dibayangkan seperti pergerakan sperma yang meliuk-liuk. Bedanya, kalo asap rokok itu meliuk-liuk di ruangan nonhampa udara, yang akhirnya bisa membentuk suatu gambaran abstrak. Gw yakin Pablo Picasso, Da Vinci, atau Afandi yang jadi pelukis terkenal dunia sekalipun, satu diantara jutaan karyanya pasti ada yang terinspirasi dari merokok. Hehe.....yaa.... lha wong mereka aja merokok. Hehe.....
Itu filosofis dari seniman.
Kalo dari analis saham? hehe....
Merokok itu bisa menginspirasi mereka menentukan kapan melakukan aksi jual, beli, atau menahan suatu saham. Kalo orang bursa lagi stres, apalagi pialang, broker, atau makelar saham dan sejenisnya udah males itung-itungan saham, isep dah asap rokok. Kalo pas dikebulin tuh asap membubung ke udara, terus dan terus naik ke udara, coba aja beli saham. Siapa tau sahamnya naik. Kalo asepnya rokok menggumpal di depan muka terus, ya ditahan dulu saham yang udah dibeli. nah, parahnya, kalo asep rokok pas disembul nggak naik, malahan turun, yaudah, berdoa aja biar saham nggak anjlok. hehe...
Asap rokok itu bukan merupakan suatu kepastian dong? Sama seperti saham. Eh? Gitu ya? Sebenernya ada indikator-indikator kapan asap rokok naik, kapan turun,dan kapan menggumpal sih. Sama seperti saham. Kalo dikaitkan dengan kehidupan, kurang lebih sama ya? Kapan naik, turun, dan kapan hidup datar-datar aja. hehe.....
Merokok juga punya filosofi secara kesehatan lho!
Pasti yang ini banyak yang percaya. Seni merokok seseorang itu bervariasi. Abis diisep, ditahan dulu di dalem mulut, atau di dalem tenggorokan terus ke paru-paru, terus dikeluarin lewat hidung. Yang pemula atau amatir, abis diisep langsung disembul. Kalo udah mahir dikit, abis diisep, disembul, terus diisep lagi dari hidung, terus disembul, diisep lagi, disembul, aih, ini kayaknya ngerokok veris irit ya? hehe....
Tapi kalo dipikir-pikir, seni nyembulin asep juga bisa bermakna filosofis. Coba kalo disembul, terus diisep dari hidung. widih! Dja*rum Black Tea yang harusnya rasa teh, terus diisep lewat hidung, rasanya berubah jadi Dja*rum Black Upil. hehe...bisa ya? Bisa dong! Lha kan kalo udah masuk hidung, pasti mengurai di rongga-rongga hidung yang notabene sarang upil. Hihihi....gimana coba? Mantaf kan! haha....
Merokok secara birokrasi juga punya filosofi yang nggak kalah tinggi. Apa?
Coba bayangin. Di Indonesia, berapa banyak daerah yang sudah menggiatkan perda larangan merokok di tempat umum? Hasilnya? Cuih. Anget-anget tai kucing. Di jakarta aja, ibu hamil yang naik kopaja bisa ngisep asep rokok gara-gara kurang hoki, duduk di sebelah pria tampan mahasiswa yang bibirnya asem pengen ngerokok. Walhasil, si ibu hamil juga harus mendapatkan asep rokok yang diisep si mahasiswa tampan tadi kan? hehe.....
Kenapa bisa gitu?
Bayangin aja. Siapa yang bikin perda larangan merokok? Pemerintah kan? Ya, campur tangan DPR/DPRD juga ada. Nah, terus, yang gw tanya, kalian yakin Fauzy Bowo, jajaran staf ahlinya, atau gubernur lain yang bikin perda larangan merokok itu udah nggak ngerokok? Kalian yakin kalo wakil rakyat yang duduk di parlemen yang bersama pemerintah katanya bikin aturan larangan merokok udah nggak ngerokok? Hahaha....
Politikus itu ibarat pantat cowok belum kena virus homo. Ya, omongannya doang yang bunyi, persis kayak lagi kentut. Eh....kok gw jadi emosi ya?
Intinya gitu lah. Politikus yang bikin perda alias kebijakan politik tentang larangan merokok aja ngerokok. Mana mungkin aturan yang mereka bikin bisa ditegakkan? Ngimpi kali ya?
Waduh? Udah panjang juga ya tulisan gw?
Hm...intinya, merokok tidak baik untuk kesehatan. Terlepas dari filosofi sarat makna dari rokok, ya diusahakan janganlah menikmati filosofi rokoknya. Rokok tembakau aja bahaya, apalagi rokok yg lain. #eh


{ 2 ocehan... Views All / Send Comment! }
Di paragraf terakhir..
Sang penulis jg harus realisasi kata-katanya.., jgn kya politikuu dkk di paragraf sebelumnya.. ;P
statement di paragraf terakhir.., sang penulis harus realisasi donk.., yar ga kaya politikus dkk di paragraf sebelumnya..
;P
Post a Comment