Pergerakan Mahasiswa, Sosial atau Politis?

Bookmark and Share

"catatan mahasiswa yang geli kalo liat gerakan konvensional mahasiswa"


Mahasiswa kembali bergerak. Kurang lebih itu yang menjadi salah satu topik utama dua tahun kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan wakil presiden Boediono, 20 Oktober 2011. Beberapa organisasi eksekutif mahasiswa, baik di tingkat daerah maupun nasional sepertinya satu suara, ingin menyampaikan bahwa pemerintah telah gagal menjalankan fungsinya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia, menjadi salah satu elemen yang banyak disorot dalam pergerakan mengkritik pemerintahan SBY-Boediono. Memang tepat pada dua tahun pemerintahan kali ini, BEM SI sendiri telah mengagendakan pergerakan mahasiswa besar-besaran yang dipusatkan di ibu kota republik ini.

Dalam aksinya, BEM SI pada awalnya mencana untuk menyuarakan aspirasi yang dilakukan dengan turun ke jalanan ibu kota. Lingkungan sekitar silang monas menjadi salah satu tempat yang dituju.

Berdasarkan riset yang mereka lakukan, para pengunjuk rasa meng-klaim, reshuffle kabinet tidak berpengaruh. Pasalnya, yang gagal adalah pemimpinnya yakni Presiden dan Wapresnya. Untuk itu pengunjuk rasa menuntut SBY-Boediono segera turun dari jabatannya.

Di beberapa media, dikabarkan bahwa sebenarnya tujuan utama aksi ratusan aktivis mahasiswa tersebut tidak berada di lingkungan monas. Yang lebih utama adalah beberapa kilometer dari tempat tersebut, tempat presiden SBY melakukan kegiatan kedinasannya, istana negara. Namun saat sore menjelang, justru tersiar kabar bahwa pergerakan ke istana negara dibatalkan. Penyusupan dan politisasi menjadi pertimbangan.

Malamnya, bundaran hotel indonesia menjadi saksi bisu renungan malam yang kembali mengkritisi pemerintahan SBY-Boediono. "SBY Gagal, Indonesia Berkabung", menjadi tema yang diangkat dalam renungan tersebut.

Bukti Mahasiswa Masih Peduli
Pergerakan yang dilakukan BEM SI sudah sepantasnya menjadi bukti bahwa mahasiswa saat sekarang ini belum tertutup mata, hati, dan pikirannya terhadap kondisi negara yang carut marut. Kepedulian yang tergambar dalam beberapa pergerakan mahasiswa, sudah sepantasnya mendapatkan standing applause.

Sedikit kilas balik pada era reformasi di tahun 1998, mahasiswa juga menjadi aktor utama dalam merubah rezim pada era tersebut. Dan saat ini, ketika kondisi negara dalam titik nadir, mahasiswa kembali muncul, dan disorot oleh media.

Tapi yang menjadi pertanyaan, apa mahasiswa harus muncul di saat yang genting saja? Saat dimana pemerintahan seperti sudah tidak peduli kepada rakyat? Tentu saja tidak.

Kepedulian mahasiswa seharusnya tidak hanya tergerak dalam urusan politik semata. Kepedulian mahasiswa harus dititikberatkan kepada urusan sosial yang lebih berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Mahasiswa adalah kaum intelektual yang terpelajar. Berada di lingkungan ilmiah, mahasiswa tentu memiliki kelebihan untuk dapat berpikir lebih matang agar bagaimana bisa mendayagunakan sumber daya yang dimilikinya, bukan sekedar menyuarakan apa yang tidak dimengertinya dengan suara lantang di tempat umum dan di depan media massa. Mahasiswa bukan sekedar tong kosong nyaring bunyinya.

Kepedulian mahasiswa sebagai kaum intelektual juga memang rawan disusupi oleh politik praktis. Sudah menjadi rahasia umum, godaan untuk mendapatkan posisi atau keuntungan tertentu dari elite politik akan muncul, terlebih bagi para aktivis mahasiswa yang lantang bersuara untuk rakyat banyak.

Mahasiswa juga figur. Gambaran mahasiswa masih dianggap menduduki kasta yang relatif tinggi di kalangan masyarakat. Maka sudah semestinya mahasiswa menunjukkan bahwa memang kaumnya bisa bermanfaat bagi masyarakat. Bukan sekedar mencari kepentingan diri sendiri maupun golongan.

Pergerakan Sosial Mahasiswa Lebih Penting
Saat ini, sudah semakin banyak mahasiswa-mahasiswa yang bergerak, tidak hanya melalui badan eksekutif mahasiswa, tetapi justru melalui gerakan-gerakan sosial yang dibuat berdasarkan minat dan bakat serta kemampuan yang dimiliki. Sebut saja komunitas "Yong On Top" yang banyak memunculkan ide-ide inspiratif bagi mahasiswa di jejaring sosial media. Bahkan beberapa diantara mereka sudah banyak menjadi figur di bidangnya masing-masing.

Tidak hanya itu, coba tengok ketika bencana gunung merapi meletus. Beberapa kelompok mahasiswa juga mengambil peranan penting dalam melakukan evakuasi para korban bencana alam.

Kaum intelektual yang bernama mahasiswa sudah sepantasnya bisa membedakan mana yang asal gaya-gayaan dan mana yang bisa bermanfaat bagi kalangan sosial. Yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah mahasiswa yang bisa membuat masyarakat lebih sejahtera dengan pemikiran dan tindak nyata. Bukan sekedar beropini, mengkritik, tapi ketika ditanya tentang tindakan nyata, tidak ada yang bisa menjawab.

Related post



{ 0 ocehan... Views All / Send Comment! }