Aku bukan seorang role model yang bisa kalian jadikan acuan untuk bertindak, aku bukan daging kolot yang merusak sela-sela gigi dan mengeroposinya hingga gupis.
2011 menjelang penghujung,
Bukan tentang bukan, melainkan tentang suatu tentang yang bertentang-tentangan.....
Tentang Cinta,
Semoga benar, pencarian itu telah usai. Arah angin yang berputar, memuting dalam beliung sudah tak sehebat dulu lagi. Kini angin berhembus ke arah timur, mencoba menelusuri hembusannya yang lurus. Angin mencoba tak berkelok, walau tentu di tengah perjalanannya nanti, pasti akan ada batu atau pohon besar yang harus dihembusi olehnya.
Tentang Otak Kiri,
Masih belum mengerti tentang suatu perjalanan kebenaran. Apakah benar yang terpikirkan di sela-sela syaraf otak tersebut sudah bisa bermanfaat di kehidupan nyata, atau hanya hafalan untuk mendapatkan predikat "Sangat Baik" dan menghindari predikat "buruk" yang selama ini kebetulan belum pernah dirasakan. Hampir memang, predikat "buruk" secara tertulis akan tersampaikan, namun terselamatkan, mungkin karena faktor yang tak biasa, dan tak biasa juga untuk disampaikan secara ilmiah. Yang jelas, mungkin semuanya harus diakhiri saat pertengahan tahun depan. Saat harus menyelesaikan perjuangan otak kiri untuk memahami suatu pemahaman yang sampai sekarang masih abstrak.
Tentang Otak Kanan,
Mungkin ini yang terpanjang diantara yang panjang. Tentang suatu perjuangan yang tidak bisa dinalar dengan cara penulisan hitam di atas putih, tidak bisa ditelusuri secara birokratif, dan tidak bisa dijadikan parameter dalam suatu pengukuran.
"Orang yang bermanfaat bukan dilihat atas eksistensinya, melainkan mulai dari kebermanfaatannya di lingkungan terdekatnya sendiri". Orang yang memperjuangkan dirinya, bahkan mengaku memasang badan untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri, belum tentu pahlawan, karena dia justru mengabaikan sesuatu yang dilihatnya, dan dia merasa ada kejanggalan, namun dia justru diam saja. Mungkin itu penjelasan tentang pedoman otak kanan yang selama ini tergunakan.
Ini bukan masalah pencarian suatu pengakuan, apalagi untuk meraih suatu eksistensi dan nilai akuntabilitas yang tinggi. Ini hanya suatu penerapan di penghujung akhir yang selama ini tertahankan. Tiga tahun memperjuangkan dengan cara birokratif, kekerabatan, dan penyesuaian ternyata belum bisa menembus kata kebermanfaatan. Mungkin belum terfaktakan tentang tembok eksistensi dan pengakuan yang tak ingin dikalahkan. Validitas tentang suatu perjuangan juga masih diragukan. Tapi semuanya tentu butuh proses, tak hanya proses yang berjalan dan membutuhkan waktu, tetapi juga proses yang konsisten tentang kebermanfaatan bagi lingkungan sekitarnya terlebih dahulu.
Masih tentang otak kanan, sudah terbilang bahwa narasi tentang otak kanan itu terlalu panjang. Karena memang otak kanan lebih sering digunakan daripada memeras dan menekuk-nekuk syaraf otak kiri.
Bukan mencari pembenaran, apalagi melencengkan suatu fakta yang ada. Namun faktanya adalah kebenaran yang muncul justru terhalang-halangi oleh rezim penguasa yang sulit menerima suatu kebebasan dan kemandirian. Atau mungkin, kegerahan yang terasa ketika kebebasan berpendapat itu muncul, lalu memanfaatkan kroni-kroninya untuk mengekang kebebasan itu kembali. Ah, itu hanya prasangka buruk yang hingga sekarang belum terbuktikan. Yang terbukti adalah kesalahpahaman dalam mentranformasikan pendapat antara mulut yang satu dan yang lain. Kesalahpahaman itu membatu, hingga akhirnya secara natural seperti menjadi dua kubu yang tak ingin mengalah.
Tentang asap,
Ada yang beda di penghujung akhir tahun ini. Antara matahari terbit hingga tenggelam, sudah menjadi hal yang biasa terlihat oleh mata ketika bibir mengepulkan asap dan terhirup oleh hidung. Terlebih ketika pada pertengahan tahun, ketika sudah tidak tahu lagi ke mana pelarian harus dilarikan. Mungkin hanya benda diam itu, yang sedikt demi sedikit tergerus oleh panasnya bara api yang menyala, dan berevolusi menjadi asap yang terhirup dan masuk ke dalam tubuh, lalu disebarkan ke semua sel melalui cairan darah merah. Mungkin ini sedikit menangkan, hingga akirnya narasi Tentang Cinta yang tersampaikan di awal bisa mengubah narasi ini.
Tentang persahabatan,
Tidak ada sahabat yang tidak oportunis di tengah kota metropolis yang selalu menuntut aliran materi di setiap lini. Faktanya, ini yang ada dan terpikirkan hingga sekarang. Penyesuaian sangat perlu dilakukan. Materi memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh materi. Ini yang harus menjadi pedoman, walau bukan pedoman mutlak.
Terlepas dari deskripsi mengenai materi, pengertian akan suatu perbedaan mungkin harusnya lebih bisa diperdalam. Ini negara kecil yang terdiri dari ribuan suku perantau yang memiliki watak berbeda-beda. Bukan dipermasalahkan oleh jarak wilayah antara suku asal dan suku kita. Yang ada sekarang, kadang suku terdekat dengan kita sendiri yang justru memiliki banyak perbedaan mendasar.
Kembali lagi ke retorika mengenai oportunis. Yang ada di kota semetropolis ini sebenarnya bukan tentang persahabatan, melainkan oportunisasi persahabatan. Seseorang yang mengaku-ngaku, dari kutu menjadi raja kutu, dan itu sudah membanggakan. Yah....syukurlah tidak ditemukan hal semacam itu di lingkungan ini.
Tentang harapan dan cita-cita,
Masih banyak yang perlu ditambal, disulam, dan dijadikan kain penghangat dalam dingin, kain yang bisa menutupi diri dari terik panas matahari. Tidak ada alasan lain untuk menyikapi semua hal yang telah diberikan hanya dengan menarik urat syaraf bibir kanan dan bibir kiri sepanjang tiga centimeter ke arahnya masing-masing.
Jangan arahkan matamu ke arahku, karena aku bukan model yang di"role"kan.
Kota ter-Metropolis di Indonesia, 25122011

{ 1 ocehan... Views All / Post Comment! }
yg jelas puitis semua, harus berkali2 baca biar ngerti neeh :D
Post a Comment