Sebuah kisah fiktif, kelanjutan The Story of Ondel-Ondel
"Jawa itu luas boi! Jakarta kalo kata guru geografi juga termasuk Jawa! Jangan ngaco lu!" Ucap Dita dengan kesalnya ketika daritadi Dyka hanya menjawab pertanyaannya dengan satu kata, Jawa.
"Dari Ujung kulon sampai ujung wetan ini semuanya Jawa! Jangan lu anggap yang namanya Jawa itu cuma Jawa Tengah sama Jogja aja! Itu nggak fair!" Lanjut Dita seperti mulutnya tak punya rem.
"Iya! Dia orang Jawa." Kataku lagi.
"Halah! Terserah lu deh. Mau yang ada di pikiran lu cewek Jawa, Sunda, Arab, terserah. Yang penting, duit kost jangan sampe telat lagi kayak kemaren! Males gue denger ceramah induk semang tiap awal bulan." Kata Dita, bujang Lampung yang ditakdirkan sekamar dengan Dyka dalam ruangan kost berukuran 5 x 8 meter.
"Oke! Demi cinta apapun gue lakukan!" Kata Dyka sambil tersenyum.
"Dasar orang gila!" Gerutu Dita sambil lalu dan keluar dari kamar kostnya.
Sementara itu, Dyka masih berada di dalam kamar kostnya, menghadap ke layar laptop dengan segudang pekerjaan kampus yang harus diselesaikan olehnya. Lima menit berlalu, hanya ada detakan jarum jam yang menempel di dinding kamar kostnya dan menggema ke seluruh dinding tembok di ruang kostnya.
Mata Dyka melirik ke arah kiri, tepat mengarah ke sederetan angka yang berurutan dari angka satu hingga angka tigapuluh. Ada satu angka di deretan angka itu yang sudah dilingkari olehnya.
Tiga hari lagi. Dan itu akan menjadi hari penentuan, apakah memang doaku terkabul. Dulu yang terkisah adalah ucapanmu bahwa kau adalah orang yang selalu menerima semua hal dengan apa adanya. Bukan adanya apa. Dan itu yang kuharapkan pada tanggal itu, ada masa di mana ke-apa adaan yang kau katakan bertahun lalu masih melekat. Aku tak menuntutmu, tapi aku hanya berharap kalau Tuhan menakdirkan kita untuk berjalan di arah yang sama, dalam nuansa yang indah.
***
Banyumas, Awal Maret 2011
Ini Jawa. Secuil wilayah yang masih berada di wilayah Jawa, dengan budaya yang masih men-Jawa walau tak semuanya bisa dikatakan Jawa. Banyumas, wilayah Jawa Tengah di bagian barat, secara geografis sudah berada di wilayah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Budayanya pun bercampur. Cablaka, ngapak, atau lebih dikenal dengan keterusterangan. Apa adanya. Seperti yang selalu kukatakan. Apa adanya harusnya sudah mengalir di darah kita, karena kita ada di wilayah yang berbudaya sama. Dan sesaat lagi, aku akan melangkah ke halaman rumahmu.
Liburan akhir semester ganjil yang menegangkan bagi Dyka. Ini kali ketiga dia melangkah ke halaman rumah Bintang, dan kali ini dia tak memberikan kabar kalau Dyka akan mengunjungi gadis yang ada dalam akhir doanya setiap hari.
"Kata Dita, aku orang bodoh karena bertahun-tahun tak bisa beralih ke lain hati. Tapi aku bukan orang ceroboh yang tidak memperhitungkan segala langkahku ketika berjalan." Gumam Dyka dalam hati, tepat ketika dia memarkir motornya di sebuah toko besar bercat hijau tua di tepi jalan.
"Semoga saja dia terkejut secara positif. Bukan....." Pikir Dyka sambil memantapkan langkahnya.
Langkah cepat Dyka terhenti ketika dia menghadapi suatu etalase besar toko itu. Seorang wanita umur dua puluh tahunan menyapanya.
"Mau beli apa mas?" Tanya wanita berjilbab hitam itu.
"Oh...nggak mbak. Mau ketemu Bintang ada?" Jawab Dyka sambil kepalanya mendongok ke arah dalam toko. Biasanya jam segini dia yang jaga toko kalau lagi nggak kuliah. Pikir Dyka.
"Yah, Mas....sayang banget. Baruuuuu aja lima menit yang lalu Mbak Bintang keluar sama mas Ilil. Dijemput pake mobil." Kata Wanita berjilbab tadi, sepertinya dia pelayan toko yang dipekerjakan oleh orang tua Bintang.
Bahu Dyka super lemas mendengar jawaban dari mulut wanita yang ada di hadapannya. Kaca etalase yang disentuh oleh tangannya sedari tadi seketika langsung berembun ketika telapak tangannya mengucurkan keringat dingin.
Seketika kau muncul dengan mimpi lama yang sepertinya akan terwujud. Namun aku terlalu berani untuk menjemputmu sekarang. Dan keberanianku terbayar oleh ketidakpuasan batin. Aku telah menunggumu dalam waktu lama, dengan keterbukaan. Namun justru kau menutup segala keterbukaan yang harusnya kau sampaikan. Terbuka bukan berarti harus menerima. Kau harusnya juga mengerti dan bisa menolak ketika aku menyampaikan cinta padamu. Cinta yang polos.
Pikiran Dyka seketika melejit berubah dari bunga menjadi lumpur.
Perjalanan Banyumas - Jakarta nanti sepertinya akan berkisah lebih panjang lagi. Karakter keterbukaan orang Banyumas, orang yang masih dianggap sebagai bagian dari orang Jawa juga sudah menurun ke sekujur darahku. Terbuka bagiku bukan berarti harus berkata dengan nada mengiyakan. Namun, yasudah lah. Kau justru lebih senang menutupi statusmu, atau memang kau sengaja membuka semuanya agar suatu saat nanti aku bisa menjadi ban serep ketika ban mobilmu tertancap paku di tengah jalan.
***
Pertengahan Maret 2011
Jakarta sudah senyap ketika jam di kamar Dyka sudah menunjukkan pukul 00.34 WIB. Mata Dyka masih terpaku pada layar leptopnya, dengan setumpuk tugas karya ilmiah yang harus diselesaikannya paling lambat besok pagi.
"Jriiing...." Bunyi notifikasi dari ponsel Android di sebelah leptop mengganggu konsentrasi Dyka dalam menatap layar leptop. Ditatapnya ponsel putih miliknya. Sebuah notifikasi dari facebook for android muncul. Satu private message dikirimkan oleh seseorang yang sudah tak asing baginya. Orang yang membuatnya kembali dari Banyumas ke Jakarta dengan bahu lemas. Senyum lebar terlukis dari wajah kusut Dyka. Dengan gugup, dia membuka pesan yang dikirim oleh Bintang melalui facebook.
Mas, kamu kemarin ke rumah?
Maaf, waktu itu aku lagi jalan keluar.
Tak butuh waktu lama bagi Dyka untuk membalas pesan itu,
Iya. Kata orang di toko, kamu lagi jalan. Sayang banget kita nggak ketemu.
Semenit, dua menit, hingga setengah jam berlalu. Harusnya ada respon yang diberikan kembali oleh Bintang. Itu harapan Dyka. Beberapa kali Dyka menyentuh ponselnya, namun belum muncul juga apa yang diharapkannya. Penasaran, Dyka membuka profil facebook milik Bunga.
"Hhh....benar...." Kata Dyka dalam hati. Bahunya yang sempat menegang, menjadi lemas seketika. Dyka beranjak dari meja kerjanya dan meninggalkan setumpuk tugas yang harusnya dia selesaikan. Direbahkannya badan Dyka ke kasur yang sudah terselimuti oleh udara dingin Jakarta.
Dari layar ponsel yang masih menyala, sebuah foto menampilkan apa yang tak ingin Dyka lihat. Dua orang yang sudah sangat dikenalnya, berpose dengan pakaian adat khas Banyumas yang merupakan masih berada di wilayah Jawa Tengah. Si Pria mengenakan pakaian Beskab, dan si wanita dengan anggunnya berada di samping pria itu dengan pakaian Nyamping. Di atas foto tersebut, tertulis judul album yang membuat harapan Dyka untuk bisa menjadi pendamping Bintang di masa depan sirna. Judul album "Tunangan", yang dibuat oleh Bintang.
Mungkin kita memang benar-benar berbeda. Aku dilahirkan oleh keturunan dengan budaya Banyumas yang blak-blakan. Namun, kau menutupinya lalu membuatku harus mencari keterbukaanmu.
-End
Mungkin kita memang benar-benar berbeda. Aku dilahirkan oleh keturunan dengan budaya Banyumas yang blak-blakan. Namun, kau menutupinya lalu membuatku harus mencari keterbukaanmu.
-End

{ 1 ocehan... Views All / Post Comment! }
bintang yang dulu atau bintang yang baru? :)
ditunggu kelanjutannya ya.. :p
Post a Comment